Akhir pekan lalu saya bertemu salah seorang teman. Ceritanya teman saya ini baru memulai belajar investasi. Ia sudah menjalani investasi reksadana dan tertarik untuk mempelajari investasi saham.

Kami pun bertemu di salah satu restoran fast food. Singkat cerita, teman saya tersebut bertanya seputar cara memilih saham untuk pemula.

Dia bercerita, untuk memilih reksadana saja dia butuh waktu beberapa bulan. Apalagi memilih saham emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia. Padahal, hingga Juni 2019 ini ada sekitar 630 emiten di Bursa Efek Indonesia.

Daripada bingung, bagaimana sih cara memilih sama untuk pemula?

Saya pun sharing dengan teman tersebut. Saya coba rangkum langkah-langkah memilih saham untuk pemula.

Mindset Penting Dalam Investasi Saham

Hal pertama yang harus kita pahami adalah dengan berinvestasi saham, kita akan menjadi seorang investor. Seorang investor yang juga sekaligus pemilik bisnis. Artinya apa? Artinya orientasi kita adalah menjadi pemilik sebuah bisnis. Jadi kita bukan menjadi trader apalagi spekulator. Tentang tipe-tipe orang ini sudah pernah saya bahas di artikel ini: Hal Paling Susah Dalam Investasi Saham.

Setelah punya mindset seorang investor, maka barulah kita melakukan pemilihan dan pembelian saham. Dalam konteks ini, investor yang saya maksud adalah investor yang orientasi waktunya jangka panjang (di atas 5 tahun). Maka dari itu, poin-poin berikut akan lebih relevan untuk yang time frame investasinya adalah jangka panjang.

Langkah 1: Lihat Produk-Produk di Sekitar Kita

Tips pertama yang saya berikan untuk teman tadi adalah lihatlah produk-produk yang ada di sekitar kita. Khususnya produk-produk yang sangat dekat dengan keseharian kita. Contoh produk ini misalnya: sabun mandi yang kita pakai, layanan perbankan yang kita pakai, kendaraan yang kita pakai, dan sebagainya.

contoh brand-brand Unilever Indonesia
Contoh brand-brand di Unilever Indonesia. Produk seperti Dove, Ponds, Royco, Lux dengan gampang kita temui di keseharian kita.

Cara ini adalah cara paling gampang untuk screening awal sebuah saham yang akan dibeli. Setelah melakukan screening awal ini, kita akan menemukan banyak sekali produk. Contohnya: sabun Lifebuoy, Rinso, Indomie, Susu Ultra, rekening BCA, motor Honda, dan banyak lagi.

Setelah tahu produk-produk tadi, coba kamubuat list perusahaan yang memproduksi barang/produk tadi. Misalkan:

  • Indomie diproduksi oleh Indofood.
  • Lifebuoy diproduksi oleh Unilever Indonesia.
  • Motor honda itu diproduksi oleh Astra.
  • Rekening BCA ya produknya bank BCA.
  • Susu Ultra diproduksi oleh Ultra Jaya.

Dari sini kita mulai bisa memetakan perusahaan-perusahaan publik yang potensial untuk kita pelajari. Untuk selanjutnya dibeli.

Intinya, kamu bisa list dulu semua produk yang kamu pakai sehari-hari/sering kamu pakai. Lalu cari tahu siapa pemilik/produsen produk tersebut.

Sampai di sini kita punya daftar perusahaan potensial untuk kita pelajari. Misal di sini kita punya 10 perusahaan yang menarik untuk kita beli sahamnya.

Langkah 2: Lihat Prospek Industri/Sektor Perusahaan Tersebut

Setelah punya list, mari kita perkirakan prospek industri/sektor bisnis perusahaan yang tadi sudah kita pilih.

Apalagi jika orientasi kita adalah investasi jangka panjang, maka sektor usaha sangat perlu kita perhatikan. Salah satu pertanyaan yang bisa diajukan adalah dalam 10 tahun mendatang, gimana sih prospek perusahaan ini?

Ambil contoh kamu tertarik dengan perusahaan Indofood, maka kamu bisa perkirakan, kira-kira dalam 10 tahun prospek Indofood akan seperti apa? Apakah orang-orang tetap konsumsi produk mereka? Atau justru tingkat konsumsinya makin tinggi?

Salah satu istilah yang sering disebut dalam investasi saham adalah circle of competenceYakni, ada baiknya seorang investor berinvestasi di bidang yang memang ia kuasai/ketahui. Atau bidang yang ia mengerti. Misalkan kalau kita kerja di bank, tentu kita mengerti dong industri perbankan itu seperti apa. Atau kalau kita kerja di bidang tambang batubara, kita mengerti industri batubara seperti apa.

Dengan punya kompetensi di suatu bidang tadi, kita akan lebih mudah untuk mempelajari prospek industri/sektor bisnis perusahaan tadi.

Kalau orientasi kamu adalah jangka panjang dan prospek bisnis/industri tadi cerah, maka kita bisa lanjut ke langkah berikutnya.

Langkah 3: Pelajari Kinerja Keuangan Perusahaan

Setelah melakukan seleksi di langkah 1 dan 2, kita akan punya daftar yang makin mengerucut. Misalkan dari 10 pilihan di awal, kini tinggal 6 – 8 perusahaan. Nah yang perlu kita lakukan adalah mempelajari kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tadi.

Ambil contoh, perusahaan yang menarik minat kita antara lain: Indofood, Unilever, Bank BRI, Astra Internasional, dan Bank BCA. Maka kita bisa pelajari kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tadi.

Bagaimana cara mempelajari kinerja keuangan mereka?

Kita bisa pelajari laporan keuangan perusahaan-perusahaan tadi. Kita bisa ambil laporan keuangan dalam 3 – 5 tahun terakhir. Lalu kita pelajari laporan keuangan tersebut. Laporan keuangan bisa kita dapatkan dari website Bursa Efek Indonesia atau dari website perusahaan terkait.

website investor relations bri
Informasi laporan keuangan, laporan tahunan, dan data-data perusahaan bisa diakses di website perusahaan. Ini adalah contoh website investor relations Bank BRI.
contoh potongan laporan keuangan BBCA
Contoh potongan laporan keuangan Bank BCA.

Ya memang mempelajari laporan keuangan jelas tidak mudah bagi para pemula. Ibaratnya orang yang sama sekali belum pernah berenang lalu disuruh berenang jelas akan kesulitan.

Kendati demikian, sebagai langkah awal, kamu bisa highlight dulu beberapa poin-poin berikut.

  • Penjualan. Cek apakah penjualan/omzet perusahaan terus naik dari waktu ke waktu?
  • Laba Bersih. Cek juga apakah laba bersih perusahaan terus meningkat dari waktu ke waktu?
  • Laba bersih per saham (earning per share). Cek juga apakah laba bersih per saham terus meningkat dari waktu ke waktu?
  • Utang. Cek berapa banyak utang perusahaan tersebut dari waktu ke waktu? Apakah terus bertambah atau justru berkurang?
  • Kekayaan bersih/ekuitas. Cek berapa ekuitas perusahaan. Apakah ekuitas/kekayaan bersih ini terus tumbuh dari tahun ke tahun?
  • Cek rasio antara utang dengan kekayaan bersih. Coba bandingkan antara utang dengan kekayaan bersih perusahaan. Apakah utangnya lebih besar atau lebih kecil dari kekayan bersih perusahaan?

Itu tadi beberapa hal mendasar yang bisa di-highlight oleh investor pemula. Jelas itu tadi sangat mendasar. Seiring berlalunya waktu, kita pasti bisa menganalisis laporan keuangan secara lebih detail, menyeluruh, dan mendalam. Tapi untuk langkah awal poin-poin tadi dapat menjadi titik awal untuk belajar.

Setelah kita mempelajari kinerja keuangan, kita bisa mengambil kesimpulan, perusahaan ini bagus atau tidak. Kita jadi makin yakin untuk membeli atau justru tidak membeli saham perusahaan tersebut.

Langkah 4: Mempelajari Manajemen Perusahaan

Faktor penting dalam investasi adalah memilih manajemen perusahaan yang bagus. Sebagai investor, kita akan membeli sebuah bisnis. Sudah tentu kita ingin orang-orang yang menjalankan bisnis kita adalah orang-orang yang jujur, berintegritas, andal, dan pastinya hebat (punya kompetensi).

jajaran direksi BBCA
Profil anggota direksi perusahaan dapat diakses di laporan tahunan perusahaan tersebut.

Untuk itu, pelajarilah manajemen perusahaan yang tadi akan kita beli. Misalkan jika kamu ingin membeli saham Indofood maka pelajarilah manajemen Indofood. Cari tahu siapa orang-orang di jajaran direksinya. Cari tahu siapa jajaran komisarisnya. Pelajari manajemennya.

Dari mana kita bisa tahu info tadi? Salah satu sumber data yang bisa dipakai adalah laporan tahunan perusahaan. Laporan tahunan ini tersedia di website perusahaan ataupun di web Bursa Efek Indonesia.

Poin/skor manajemen ini termasuk skor penting dalam membuat keputusan berinvestasi. Jangan sampai kita malah berinvestasi di perusahaan yang manajemennya buruk atau tidak jujur. Jika demikian, bukan untung yang didapat, malah buntung yang kita bawa pulang.

Langkah 5: Menghitung Valuasi Saham

Langkah berikutnya adalah menghitung valuasi saham. Tujuannya agar kita bisa tahu saham perusahaan tersebut mahal atau murah. Untuk menghitung valuasi, ada banyak sekali metode yang bisa digunakan.

Tapi seperti ajarannya Lo Kheng Hong, saya biasanya memakai valuasi yang sederhana saja. Valuasi yang bisa kita pakai misalnya:

  • Price Earning Ratio (P/E Ratio).
  • Price to Book Value Ratio (P/BV Ratio).

Penjelasannya sebagai berikut.

Price earning ratio adalah rasio yang didapat dengan membandingkan laba bersih per saham dengan harga saham saat ini. Misalkan, laba bersih per saham (earning per share) suatu perusahaan adalah 1.000 Rupiah. Lalu harga saham perusahaan tadi di Bursa adalah 5.000 Rupiah. Artinya P/E Ratio perusahaan tadi adalah 5.000/1.000, didapatlah angka 5. Artinya PER (P/E Ratio) perusahaan tadi adalah 5.

Makin rendah PER tadi maka bisa dikatakan semakin murah valuasi saham tadi. Contohnya kalau kita lihat antara bank BRI dan bank BCA. Mengacu pada data hari Jumat, 21 Juni 2019, PER BRI adalah 16,09, sementara PER BCA adalah 27,45. Artinya, secara valuasi P/E Ratio, harga saham BRI lebih murah dibanding harga saham BCA.

P/E Ratio Bank BCA.
P/E Ratio Bank BRI

Sementara itu Price to Book Value Ratio didapat dengan membandingkan nilai ekuitas per lembar saham perusahaan dengan harga saham. Misalkan, nilai ekuitas per lembar saham X adalah 1.000 Rupiah. Harga saham X tadi adalah 3.500 Rupiah. Artinya, PBV saham X tadi adalah 3.500/1.000 = 3,5.

Semakin tinggi PBV suatu saham, berarti semakin mahal valuasi saham tersebut. Ibaratnya, kita membeli barang senilai 1.000 tapi dengan harga 3.500.

Singkatnya, degan melihat PBV dan PER tadi kita bisa menyimpulkan valuasi suatu saham mahal atau murah.

Terus berapa dong PER dan PBV yang ideal/murah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tiap investor punya kriteria masing-masing. Salah satu cara yang bisa dipakai adalah membandingkan PER dan PBV perusahaan tadi dengan perusahaan lain dalam bidang/sektor yang sama. Misalkan PBV dan PER BRI kamu bandingkan dengan bank besar lain (seperti: BCA, BNI, CIMB Niaga, atau Bank Mandiri).

Dari sana akan ketahuan oh PBV dan PER nya ketinggian atau tidak.

Dengan mengerti, valuasi kita akan tahu harga saham suatu perusahaan sedang mahal atau murah. Jika masih murah, ya kita beli sahamnya. Jika sudah mahal, maka keputusan membeli bisa dipertimbangkan dulu.

Langkah 6: Beli Sahamnya

Setelah tahu kualitas suatu perusahaan, lalu tahu valuasinya, barulah kita memutuskan untuk membeli atau tidak membeli. Langkah menghitung valuasi sengaja saya taruh di akhir karena valuasi tadi akan menentukan apakah kita akan membeli sekarang atau tidak.

Jika valuasi suatu saham masih murah menurut kamu, maka kamu bisa beli saham perusahaan tersebut. Jika masih mahal, maka kamu bisa menunggu pasar sedang terkoreksi untuk mendapatkan saham bagus dengan harga lebih murah.

Jangan khawatir, proses koreksi pasti akan terjadi. Bahkan saham-saham perusahaan bagus macam BCA, BRI, Astra, Indofood, atau Unilever pasti akan mengalami koreksi wajar setiap tahunnya.

Ini grafik beberapa saham perusahaan bagus di tahun 2019 ini.

Grafik harga saham bank BRI di tahun 2019. Di bulan-bulan tertentu, saham bank BRI mengalami penurunan.
Grafik harga saham Unilever Indonesia (UNVR). Sempat mengalami koreksi mendalam di bulan Mei 2019.
Grafik harga saham Indofodd Sukses Makmur (INDF) di tahun 2019.

See? Nah, masa-masa ketika harga saham perusahaan tadi turun itulah yang dapat kita manfaatkan sebagai momentum untuk membeli saham dengan harga lebih murah.

Itulah langkah dan panduan awal memilih saham untuk pemula. Jika kamu masih bingung, atau ada pertanyaan seputar investasi saham, bisa mention atau tanya ke akun Instagram saya @JefferlyHelian.

Jangan lupa, subscribe juga di channel YouTube Kanala.id. Nanti saya akan banyak berikan video tutorial seputar investasi saham.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here