Ada sebuah ironi yang sering saya temui.

Ada banyak karyawan yang ingin punya bisnis sampingan. Tujuannya bermacam-macam, mulai dari untuk menyiapkan masa pensiun, ingin penghasilan tambahan, dan banyak lagi.

Di sisi lain, banyak masyarakat yang belum mengenal pasar modal dengan baik. Mereka memandang saham sebagai sebuah judi. Padahal, investasi saham adalah salah satu cara terbaik untuk menumbuhkan kekayaan.

Kita nggak usah deh bicara soal pemilihan saham yang bagus banget, bicara soal Return on Equity, bicara Gross Profit Margin, bla…bla. Cukup lihat pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dalam hampir 20 tahun terakhir. Ini grafiknya.

Grafik pertumbuhan IHSG dalam 20 tahun terakhir.

Kalau kita perhatikan, dengan membeli indeks saja, investasi kita bisa tumbuh sebanyak 9 kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Pada Januari 2000, indeks kita itu masih 600 Rupiah-an. Sekarang sudah 6.000-an. Gak usah ngapa-ngapain. Beli indeks, tinggal tidur aja, sudah naik hampir 10 kali lipat.

Tapi sayangnya, banyak yang menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kali ini saya akan bahas soal investasi saham dengan sudut pandang sebagai seorang karyawan.

Membeli Saham = Membeli Sebuah Bisnis

 

Mindset yang tidak diketahui oleh masyarakat adalah membeli saham = membeli sebuah bisnis. Jangankan masyarakat awam, para pengelola dana profesional pun tetap memperlakukan saham seperti sebuah komoditas (barang dagangan). Mereka akan melakukan jual beli saham dalam tempo yang relatif singkat. Layaknya pedagang, mereka akan menghamba pada prinsip supply and demand.

Padahal, mindset berinvestasi saham adalah membeli sebuah bisnis. Dengan membeli saham, maka kita ikut punya kepemilikan di perusahaan publik. Kalau kita beli saham Bank BCA, maka kita juga tercatat sebagai salah satu pemilik BCA. Tentunya kita jadi pemilik Bank BCA bersama dengan puluhan ribu investor lainnya. Siapa yang tak senang jika jadi salah satu pemilik dari bank swasta terbesar di Indonesia?

Sayangnya masyarakat masih menganggap berinvestasi saham itu harus trading. Harus tahu kapan membeli dan kapan menjual saham. Kalau harga saham turun 2% dalam sehari, langsung panik. Alhasil, mindset “membeli dan memiliki bisnis” tadi menjadi diabaikan.

Apa yang terjadi? Akhirnya banyak orang yang malah memilih jalan ribet untuk berinvestasi. Mulai dari beli unitlink, ikut MLM, membuka bisnis sendiri, sampai banyak yang terjebak di investasi bodong.

Tunggu dulu, bukan berarti membuka bisnis atau ikut MLM jelek ya. Jelas itu pilihan yang bagus asal dijalankan secara konsisten. Apalagi agar ekonomir bergerak, maka perlu banyak sekali bisnis baru yang dibuka. Juga perlu ada konsumsi.

Tapi kalo unitlink? Hmmm udah deh, lain kali kita bahas. Kalau ngomongin unitlink, saya bawaannya pengin marah-marah 🙂

Pikiran yang saya miliki adalah daripada repot-repot buka bisnis, lebih enak saya membeli saham perusahaan yang bagus. Lha iya dong, kalau mau punya bank, ngapain capek-capek bikin bank dan saingan sama BCA atau BRI. Beli aja saham mereka. Kalau saya mau bisnis jalan tol, ngapain saya harus bangun jalan tol repot-repot. Beli aja saham Jasa Marga.

Membuka dan Menjalankan Bisnis Itu Capek, Repot, dan Bisa Bikin Pusing

Saya sudah berbisnis sejak usia kuliah. Selepas kuliah pun saya juga menjalankan bisnis sendiri. Saya menjalanan bisnis di bidang digital marketing agency. Dan Anda tahu, betapa capeknya ngurusin bisnis.

Harus meeting ketemu klien. Harus terlibat di operasional. Harus mengelola tim. Harus cari client. Wah pusing deh. Tanpa ada dorongan dan kecintaan terhadap apa yang dikerjakan, maka berbisnis itu akan jadi pilihan yang berat dan “berdarah-darah”.

Kalau tak percaya, cobalah buka bisnis, lalu jalankan. Jika bisa survive selama 2 tahun, maka sudah bisa dibilang hebat. 🙂

Belum lagi kalau kita bicara pengembalian modal kita. Mendapatkan return sebesar 25% per tahun itu keren nggak?

Bagi sebagian orang, ah apaan 25%. Kecil banget.

Tapi kalau kita lihat laporan keuangan perusahaan-perusahaan publik, dapat return on equity 25% itu sudah hebat banget. 🙂

Kalau mau berani itung-itungan, coba deh buka bisnis, lalu buat ROE (Return on Equity)-nya konsisten 25% dalam 5 tahun. Kalau bisa, kekayaan kita bakal naik berlipat-lipat.

Bisa Mencicil Untuk Membeli Sebuah Bisnis

Balik lagi ke topik karyawan tadi. Kenapa karyawan cocok untuk berinvestasi saham?

Alasannya karena karyawan punya penghasilan yang tetap. Jika keuangannya dikelola dengan baik, maka karyawan akan punya sisa dana yang bisa diinvestasikan. Dana ini dapat diinvestasikan untuk membeli perusahaan publik yang bagus. Kalau dalam 1 bulan Anda mampu membeli 1 lot BBCA, maka dalam setahun Anda akan punya 12 lot BBCA (1200 lembar saham BCA). Bayangkan kalau Anda mampu melakukan hal tersebut selama 10 tahun tanpa henti. Anda akan punya 120 lot saham BBCA.

Harga saham BCA per 4 September 2019 adalah 30.100. Jadi, kalau Anda punya 120 lot, Anda akan punya 12.000 lembar saham BCA. Jika dirupiahkan, maka nilainya setara 361.200.000. Belum termasuk dividen yang akan Anda terima setiap tahun :). Padahal cuma beli 1 lot BCA setiap bulan lho. Apalagi kalau Anda mampu menabung saham lebih dari itu.

Dengan adanya penghasilan tetap dan manajemen keuangan yang baik, maka risiko investasi dapat diminimalkan.

Apalagi bagi Anda yang berstatus sebagai karyawan perusahaan publik. Misal Anda karyawan Bank BRI, karyawan BNI, karyawan Indofood, dsb. Anda punya keunggulan dibanding ratusan ribu investor di luar sana. Kenapa? Sebab Anda dengan mudah memahami interal perusahaan Anda. Lha wong sehari-hari kerjaan Anda di sana, bahkan Anda hidup di sana.

Jadi amat disayangkan kalau Anda justru tidak memiliki saham perusahaan di tempat Anda bekerja. Hasil kerja keras Anda hanya dinikmati oleh pemegang saham.

Lantas, bagaimana cara memulai investasi saham? Saya pernah buat artikel berjudul: Bagaimana Cara Memilih Saham Untuk Pemula?

Jika Anda tertarik, Anda bisa ikutan kursus online Cara Simpel Berinvestasi di Pasar ModalDapatkan info kursus online-nya dengan menghubungi saya melalui Instagram di @JefferlyHelian. Atau kontak ke email: kerjaan.jefferly@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here