Saham-saham di dalam indeks LQ45 sering menjadi favorit para investor. Alasannya karena saham-saham yang tergabung di dalam indeks LQ45 adalah saham-saham yang liquid dan tingkat perdagangannya tinggi. Nah apakah ada saham-saham menarik dan potensial di dalam LQ45?
Di artikel ini Kanala akan bahas deretan saham-saham LQ45 yang punya fundamental bagus tapi valuasi nya sedang murah. Saham-saham ini berpotensi memberi capital gain yang menarik ketika sahamnya kembali diapresiasi oleh pasar. Apa saja saham-saham tersebut? Berikut ulasan selangkapnya.
Video: 7 Saham LQ45 Bagus Lagi Murah
Setiap bulannya Kanala ID rutin memublikasikan video yang membahas saham LQ45 yang lagi murah. Termasuk untuk bulan Juli 2025. Berikut video terbaru dari Kanala yang membahas tentang 7 saham LQ45 yang lagi murah.
Untuk melihat video-video edisi bulan-bulan sebelumnya, kamu bisa cek langsung di YouTube Kanala ID. Bisa lakukan pencarian di YouTube dengan kata kunci “saham LQ45 lagi murah Kanala”.
7 Saham LQ45 Bagus dan Lagi Murah 2025
Berikut list saham LQ45 yang bagus dan lagi murah di tahun 2025 ini.
1. ADRO (Alam Tri Resources)
Dulunya ADRO (Alam Tri Resources) dikenal sebagai perusahaan tambang batubara besar yang ada di Indonesia. Namun pada Desember 2024, ADRO melakukan spin off (pelepasan anak usaha) AADI (Adaro Andalan Indonesia). Dengan demikian, sejak tahun 2025 ini ADRO tidak lagi fokus pada bisnis batubara termal, melainkan ADRO menjadi induk dari anak-anak usaha yang lebih fokus ke batubara metalurgi dan green energy.
Meskipun laba bersih ADRO turun di 2025 (karena lepasnya anak usaha/AADI) tadi, namun saham ADRO dihargai dengan valuasi yang cukup rendah. Di harga saham 1745, terlihat dari PBV (price to book value)-nya yang hanya 0,68x.

Walaupun dalam jangka pendek – menegah laba bersih ADRO akan turun, namun saham ini tetap menyimpan potensi dalam jangka panjang. Seiring dengan kenaikan kontribusi dari bisnis batubara metalurgi dan green energy-nya, suatu saat ADRO bisa diapresiasi dengan PBV wajar, misalkan PBV 1 – 1,1x. Ketika itu terjadi saham ini berpotensi memberi capital gain bagi investor yang sudah masuk saat PBV masih rendah.
2. ASII (Astra International)
Dulu sebelum pandemi covid, saham ASII biasanya dihargai dengan valuasi yang cukup tinggi. PER nya bisa mencapai 9-10x (bahkan lebih) dan PBV selalu di atas 1. Namun di harga saham 4600-an, PBV saham ASII hanya 0,85x.

Namun faktanya kinerja laba bersih ASII justru lebih baik dibandingkan masa sebelum pandemi. Sebagai gambaran pada tahun 2019 lalu laba bersih ASII mencapai 21,7 T. Nah pada tahun 2024, laba ASII justru mencapai 34 T. Kenaikan yang cukup signifikan dalam rentang waktu 5 tahun.
Hanya saja memang pada tahun 2025 diperkirakan laba ASII akan mengalami penurunan. Seiring dengan sedang melemahnya penjualan otomotif (mobil) dan juga penurunan harga batubara yang terjadi di 2024 dan 2025. Namun dengan valuasi yang undervalued dan potensi dividend yield 7-8% per tahun jelas saham ASII sangat menarik di level harga 4600-an.
3. Saham BBTN (Bank BTN)
Bank BTN termasuk salah satu bank BUMN besar yang ada di Indonesia. Per Maret 2025, total aset BBTN bahkan mencapai lebih dari 468 T. Menjadikan dia masuk dalam jajaran 5 bank terbesar di Indonesia. Menariknya valuasi PBV BBTN di harga saham 1000-an hanya 0,45x.

Tentu ini cukup menarik, di mana salah satu bank besar Indonesia dihargai dengan valuasi yang sangat undervalued. Secara kinerja pun di tahun 2025 BBTN mengalami perbaikan laba bersih. Diperkirakan untuk tahun 2025, laba bersih BBTN bisa naik 20% dibandingkan tahun 2024 lalu.
Tentu ini tinggal masalah waktu hingga saham BBTN kembali diapresiasi oleh pasar.
4. INCO (Vale Indoensia)
Di harga saham 3300-an, saham INCO dihargai dengan PBV 0,76x. Tentu ini menjadikan saham INCO tergolong undervalued. Penyebab saham INCO bisa dihargai dengan PBV di bawah 1 adalah kinerja laba bersih yang sedang turun sejak 2023 dan 2024. Penyebab turunnya laba bersih INCO adalah turunnya harga nikel yang sudah terjadi sejak tahun 2023 dan 2024 lalu.
Bahkan pada bulan Juli 2025, harga nikel berada di level rendah yakni di 15-ribuan USD per metrik ton. Ini jelas jauh dibandingkan harga nikel pada 2023 atau bahkan 2022 lalu, yang mana saat itu nikel bisa mencapai di atas 20 ribu USD per ton. Anjloknya harga nikel dunia ini menjadi penyebab tergerusnya laba bersih INCO.

Namun justru muncul peluang. Jika suatu saat harga nikel bisa kembali rebound dan naik ke atas 20 ribu USD per ton, maka bisa jadi saham INCO akan diapresiasi dengan PBV yang lebih baik. Misal di PBV 1 atau lebih.
5. INKP (Indah Kiat Pulp and Paper)
Untuk Anda investor yang tertarik dengan bidang pulp atau kertas, maka INKP jelas bisa jadi salah satu pilihan. Di mana INKP merupakan salah satu perusahaan produsen pulp dan kertas terbesar di Indonesia. Dengan laba bersih tahunan yang cukup besar, bisa di atas 6 T per tahun, saham INKP ternyata hanya dihargai dengan PBV yang rendah.
Di harga saham 5400-an, PBV saham INKP hanya 0,27x. Bahkan PBV nya tidak sampai 0,3x. Sudah tentu ini menyimpan potensi jika suatu saat saham INKP kembali diapresiasi oleh pasar.
Sebelumnya di YouTube Kanala ID, kita sudah sering bahas saham INKP sebagai saham LQ45 bagus dan murah.
6. ITMG (Indo Tambangraya Megah)
Di tengah tren penurunan harga batubara sejak 2024 lalu, saham batubara banyak dihargai dengan valuasi yang mulai murah. Salah satunya ITMG. Di harga saham 22 ribuan, PBV saham ITMG hanya 0,77x.
Secara kinerja pada Q1 2025, laba bersih ITMG sebenarnya masih naik 5,4% dibandingkan Q1 2024. Namun dengan tren harga batubara yang berada di dalam tren penurunan, jelas potensi laba bersih ITMG akan kembali turun di tahun 2025 ini. Hanya saja, dengan valuasi PBV 0,77x jelas saham ITMG bisa masuk watchlist dulu. Untuk suatu saat diserok dan menunggu harga batubara kembali rebound.
Potensi yield dividen tahunan ITMG juga tinggi, bisa mencapai 13-15% per tahun.
7. UNTR (United Tractors)
Sama halnya dengan ITMG, UNTR juga dihargai dengan valuasi yang cukup murah. Di harga saham 21.600-an, PBV UNTR hanya 0,83x. Anak usaha Astra International ini juga mengalami penurunan laba bersih pada tahun 2025. Di mana pada Q1 2025 lalu, laba bersih UNTR tercatat hanya 3,1 T (turun 29,9% YoY).
Secara tahunan, kinerja UNTR juga kemungkinan besar akan turun. Seiring dengan pelemahan harga batubara akan mengakibatkan pendapatan dan laba bersih dari bisnis tambang batubara UNTR juga ikut turun. Selain itu, penurunan harga batubara kedepannya bisa membuat pendapatan bisnis kontraktor penambangan batubara UNTR juga ikut turun, yang pada akhirya bisa menggerus pendapatan dan laba bersih UNTR.
Hanya saja dengan kondisi sahamnya yang sudah mulai undervalued, UNTR mulai bisa dipertimbangkan dan nanti akan berpotensi naik ketika harga batubara kembali naik/rebound tinggi.
Selain 7 saham di atas, masih ada beberapa saham-saham LQ45 lain yang bagus dan juga underavalued. Kedepannya akan terus kita bahas di web Kanala ID dan juga di YouTube Kanala ID. Jadi pastikan Anda juga nonton dan subscribe di channel YouTube Kanala ID.






