Kalau ada pertanyaan, “Apa sih hal paling susah dalam investasi saham?”

Hayo, kamu akan jawab apa?

Mungkin akan ada yang bilang, “paling susah itu mencari saham perusahaan dengan valuasi murah tapi kinerjanya bagus”. Atau ada yang bilang, “paling susah itu mengetahui kapan harus beli, kapan harus jual”. Tiap orang mungkin punya tingkat kesusahannya masing-masing.

Lantas, kalau saya yang ditanya pertanyan tadi, apakah jawabannya?

Tanpa ragu, jawaban saya adalah…

Hal Paling Susah Dalam Investasi Saham: Sabar!

Ya tidak salah lagi. Menurut saya, hal paling susah itu justru melatih kesabaran.

Hah sabar gimana?

Sabar. Sabar ketika menghadapi gejolak pasar.

Sebelum lanjut, kita tegaskan dulu ya, di sini kita lagi bahas investor. Bukan trader, apalagi spekulator.

Buat yang belum tahu, di bursa saham ada tiga macam pelaku pasar. Pertama, adalah investor. Investor ini adalah orang-orang yang memang mau berinvestasi pada sebuah bisnis/perusahaan terbuka di bursa. Jadi, ketika mereka membeli saham, maka mindset mereka adalah membeli sebuah bisnis. Alhasil, investor ini orientasi waktu-nya cenderung lebih panjang. Mereka bisa menunggu hasil investasinya berbuah dalam waktu yang cukup lama (misal: beberapa bulan, satu tahun, atau bahkan lebih).

Supaya gampang bayanginnya, tipe-tipe investor ini misalnya seperti Warren Buffett. Bahkan Buffett terkenal dengan quotes yang bunyinya periode kepemilikan saham favorit mereka (Buffett dan partner-nya) adalah selamanya.

Tipe kedua adalah trader. Sesuai dengan namanya “trader” atau pedagang adalah orang-orang yang mindset dan orientasinya adalah dagang. Mereka memandang saham sebagai sebuah barang dagangan. Yang bisa dibeli ketika harga murah, lalu dijual di harga tinggi guna mendapatkan keuntungan. Biasanya, orientasi waktu para trader ini cukup singkat (tidak selama investor). Mulai dari ada yang hanya detik, menit, harian, mingguan, menit, atau beberapa bulan.

Tipe ketiga adalah spekulator, yakni mereka yang beli saham tapi tidak tahu apa yang dibeli. Dan membelinya ngasal. Jadi, ya spekulasi.

Nah kali ini kita khusus ngomongin soal investor ya.

Menurut saya dan berdasarkan pengalaman saya, hal paling sulit dalam menjadi investor adalah bersabar. Kenapa sabar? Karena namanya pemilik bisnis, kita tidak bisa mengharapkan hasil langsung keliatan besok pagi atau lusa, atau minggu depan. Sebagai investor, kita adalah pemilik bisnis.

Ibaratnya gini deh, kita pemilik bisnis coffee shop. Bisnis tersebut berjalan. Kira-kira kapan kita bisa melihat hasil bisnis kita? Apakah besok pagi? Jelas nggak kan. Minimal kita baru bisa melihat kinerja bisnis kita secara lebih jelas setelah beberapa waktu, entah itu sebulan, dua bulan, satu kuartal, atau bahkan tahunan dan sebagainya.

Sama halnya dengan perusahaan publik. Ya kalau kita baru beli hari ini, masa kita langsung mengharap hasilnya besok siang. Kan nggak mungkin kita beli BRI hari ini nilai ekuitasnya misal 100 triliun. Terus besok pagi kita langsung mengharap ekuitas jadi 200 triliun. Ya harus nunggu bro!

Jadi ya kita juga harus sabar nunggu ekuitas/nilai bukunya perusahaan naik.

Jadi, kalau kita baru beli saham hari ini, sebagai investor, kita mikirnya bukan besok atau lusa harga sahamnya berapa. Tapi yang kita pikirkan, apakah nilai perusahaan ini akan tumbuh? Sebab ketika nilai perusahaan ini tumbuh, maka fundamentalnya bagus, harga saham pasti akan mengikuti. Jadi ya sabar dong. Kasih waktu manajemen dan bisnisnya untuk berproses.

Sabar Ketika Melihat Harga Saham Naik Turun

Oleh karena itu, investor juga perlu sabar ketika melihat gejolak harga di pasar. Jadi, harusnya investor tidak lagi pusing melihat grafik pergerakan harga yang naik turun dalam periode pendek (misal: sehari dua hari, seminggu dua minggu). Kenapa? Sebab namanya harga saham ya pasti naik turun dong, tergantung supply and demand. 

Kalau banyak yang mau beli saham, tapi yang jual dikit, ya harga naik. Sebaliknya kalau yang mau jual banyak tapi gak ada yang mau beli, ya harganya jatoh.

Sebagai investor, kita perlu memisahkan antara apa yang terjadi di market dengan kinerja bisnis kita. Harga saham yang turun belom tentu tanda bisnisnya kita jelek. Bisa jadi memang market lagi nggak suka sama saham perusahaan kita.

Demikian sebaliknya, ketika kinerja perusahaan kita naik cuma 15%, lalu di pasar harga saham perusahaan kita naik 50 atau bahkan 100%, belum tentu juga itu sesuai dengan kenaikan kinerja. Bisa jadi market lagi euforia dan suka banget sama perusahaan kita.

Alhasil, ya sebaiknya kita sabar melihat gejolak harga di pasar. Ingat, di sini kita beli dan pegang bisnis lho. Bukan sekadar lembar kertas tak bermakna yang bisa diperdagangkan.

Sabar Ketika Market Lagi Euforia atau Sebaliknya

Satu lagi yang penting adalah sabar ketika market lagi euforia. Kalau market lagi suka banget sama saham perusahaan kita, maka harga saham kita pasti akan naik. Naiknya bisa gila-gilaan lagi. Lantas, sebagai pemilik apakah kita harus ikut-ikut menambah kepemilikan kita? Padahal harga sahamnya lagi kemahalan menurut versi kita.

Ya tentu enggak dong. Akan lebih baik ketika kita membeli saham perusahaan dalam keadaan terdiskon. Tujuannya supaya return yang kita dapat jauh lebih memuaskan. Makanya, kalau kita lagi pegang cash banyak, kita juga perlu berlatih sabar. Sabar menunggu momen sampai kita bisa belanja barang bagus dalam keadaan diskon.

Dengan demikian, ketika seorang investor sudah punya skill value investing, analisis fundamental yang mumpuni, apalagi ditambah dengan kemampuan untuk sabar, maka hasil investasi si investor pasti akan bagus banget.

Dengan mindset sabar tadi, kita harusnya tidak khawatir lagi dengan gejolak singkat di pasar modal. Kita jadi tidak galau lagi apakah kita harus beli atau jual saham kita. 🙂

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here