Momentumnya sudah lewat cukup jauh. Namun mungkin masih sedikit teringat di ingatan Anda tentang kasus Jiwasraya dan Asabri yang sempat ramai pada Januari 2020 lalu.

Skandal yang diduga merugikan negara senilai triliunan Rupiah. Tak hanya negara yang dirugikan, tapi jelas para nasabah pun juga ikut mengalami kerugian. Lantas, pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari kasus Jiwasraya dan Asabri ini?

Mari kita ulas selengkapnya.

Video: 5 Pelajaran Penting dari Kasus Jiwasraya dan Asabri

Kanala ID pernah membuat video berjudul 5 Pelajaran Penting dari Kasus Jiwasraya dan AsabriBerikut videonya.

Secara umum, setidaknya ini 5 pelajaran yang bisa dipetik oleh investor ritel terkait kasus Jiwasraya dan Asabri ini.

1. Ketahui Betul Produk Keuangan yang Anda Beli

Sebelum membeli suatu produk, apalagi produk keuangan, pastikan kita sudah melakukan riset tentang produk tersebut. Nah, salah satu produk yang dianggap bermasalah dalam kasus Jiwasraya adalah produk JS Saving Plan. Produk ini adalah produk asuransi jiwa sekaligus investasi. Yang jadi permasalahan adalah JS Saving Plan menjanjikan jaminan return 9 – 13 persen sejak 2013 – 2018. Yang mana periode pencairannya adalah setiap tahun.

Untuk kita yang sudah memahami pasar modal, tentu akan kaget mendengar hal tersebut. Kenapa? Sebab bagaimana ceritanya sebuah institusi keuangan mampu menjamin return secara pasti, senilai 9 – 13%. Kemana dana kelolaan tersebut akan diinvestasikan? Padahal kita tahu bahwa return investasi di deposito, surat utang, atau obligasi jelas tidak mencapai angka tersebut.

Lalu dikemanakan dananya? Oh tentu saja ada opsi investasi di saham. Namun siapa yang bisa menggaransi return tinggi di investasi saham? Padahal kita tahu bahwa ketika kondisi pasar sedang bagus, rata-rata kenaikan indeks saham pun biasanya di kisaran sepuluh sampai belasan persen setahun. Itu pun dengan adanya risiko fluktuasi harga saham dari waktu ke waktu. Apalagi jika kondisi pasar saham sedang jelek, bukannya dapat return justru malah menanggung rugi.

Investor yang mengerti dan bijak tentu sudah bisa mencium aroma kecurigaan atas produk-produk keuangan yang mungkin “tidak masuk akal” semacam ini.

2. Perlu Mengerti Produk-Produk Finansial

Sekalipun kita tidak mengerti investasi saham, tapi setidaknya kita perlu punya pemahaman tentang produk-produk finansial. Misalkan, kita tahu dan mengerti tentang deposito, tahu tentang obligasi, tahu tentang asuransi, dan sebagainya. Adanya pemahaman tentang produk-produk keuangan akan membantu kita terhindar dari masalah yang mungkin datang ketika kita salah beli produk finansial.

Selain itu, adanya pemahaman tentang produk-produk finansial juga akan membantu kita memilih produk keuangan yang tepat sesuai tujuan keuangan kita.

3. Integritas adalah Hal Paling Utama

Banyak yang bertanya, “kok bisa institusi besar semacam itu terjebak di permainan saham gorengan?” “Apakah mereka tidak tahu?”

Tentu saja, tim mereka pasti tahu. Namun kenapa masih berani main-main dengan saham gorengan? Hmmm.. ya sudahlah, pasti Anda tahu jawabannya.

Terlepas dari kasus yang menimpa dua institusi besar tadi, pelajarannya adalah kita tidak bisa tawar menawar dengan integritas. Apalagi ketika kita berinvestasi di pasar modal. Bagi Kanala ID, integritas adalah salah satu faktor paling utama dalam pertimbangan membeli suatu saham. Ketika suatu manajemen diragukan integritasnya, maka lebih baik jauh-jauh deh. Apalagi kalau untuk keperluan investasi.

Warren Buffett pernah memberi kutipan semacam ini, “If you aren’t willing to own a stock for ten years, don’t even think about owning it for ten minutes.” 

Pertanyaannya, apakah kita nyaman dan mau memegang saham suatu perusahaan selama 10 tahun kalau kita meragukan integritas manajemen mereka? Saya kira tidak.

4. Hindari Saham Gorengan

Untuk Anda yang berinvestasi saham, jauhi saham gorengan. Kecuali Anda ingin berspekulasi dan bersiap kehilangan dana Anda. Saham-saham gorengan bisa naik turun secara tak terduga, dengan fluktuasi harga yang sangat tinggi, tanpa ada alasan yang jelas dibalik pergerakan harga saham tersebut. Biasanya, saham-saham perusahaan gorengan tidak dibarengi dengan kinerja fundamental dari perusahaan tersebut.

5. Preferensi: Pilih Perusahaan yang Hati-Hati/Prudent

Salah satu kriteria favorit Kanala ID ketika memilih suatu saham adalah memilih manajemen yang konservatif dan hati-hati. Manajemen yang prudent akan menjaga perusahaan mereka dari kerugian atau bahaya yang mengancam. Pengelolaan perusahaan pun dilakukan dengan bijak dan bukan ugal-ugalan. Alhasil ketika perusahaan terlindungi, kinerjanya bagus, maka investor pun akan diuntungkan.

Sebaliknya institusi yang tidak prudent maka berpotensi besar merugikan para stakeholder-nya. Mulai dari karyawannya, pemegang saham, nasabah, dan sebagainya. Perusahaan yang prudent tentu tidak mau mengambil risiko besar dengan berurusan dengan aset-aset keuangan yang bermasalah. 🙂

Nah itulah lima pelajaran yang bisa dipetik dari kasus Jiwasraya dan Asabri. Terlepas dari apapun posisi Anda saat ini, tak ada ruginya menjadi bijak dan berhati-hati dalam berinvestasi. Selalu pahami betul produk keuangan yang Anda beli, supaya Anda terhindar dari kerugian di waktu yang akan datang.

 

Butuh mentor untuk investasi saham? Ikuti Program Private Mentoring Investasi Saham dari Kanala IDKlik di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here