5 Agustus 2020 BPS mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32% pada kuartal 2 2020. Banyak media membahas bahwa Indonesia sudah masuk ke resesi teknikal. Jika tren pertumbuhan minus ini berlanjut pada kuartal 3 2020, maka Indonesia akan resmi masuk resesi.

Indonesia (mungkin) akan menyusul negara-negara yang sudah resmi resesi. Sebut saja seperti Singapura, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jerman yang sudah lebih dulu resesi di 2020. Lantas, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana cara mengatur keuangan ketika masa pandemi ini?

Tenang, jawabannya akan kita bahas di artikel kali ini. Beberapa waktu yang lalu saya beruntung bisa melakukan live (di Instagram dan Google Meet) bersama Safir Senduk. Untuk yang belum tahu, Anda bisa cek profil Safir Senduk melalui media sosialnya di sini: Instagram Safir Senduk. Atau Anda juga bisa baca profil Safir melalui laman Wikipedia. Beliau ini adalah seorang financial planner terkemuka di Indonesia.

instagram Safir Senduk.
Profil Instagram Safir Senduk.

Di artikel ini, kita akan bahas hal-hal berikut:

  • Kapan seseorang membutuhkan financial planner.
  • Tips dan panduan mengelola keuangan untuk milenial.
  • Tips mengatur keuangan di masa sulit (pandemi Covid) yang juga bisa berujung resesi.
  • Tips mempersiapkan masa pensiun dengan instrumen investasi jangka panjang.

Yuk mari kita bahas.

Kapan Seseorang Membutuhkan Financial Planner? 

Awal mula live ini karena waktu itu sedang ramai kasus Jouska. Ketika itu, Jouska (financial advisor terkenal) tersandung kasus. Kasus pelanggaran regulasi dan juga salah kelola dana investasi saham klien. Selengkapnya Anda bisa cek info kasus Jouska di sini.

Nah berhubung Safir Senduk termasuk salah satu financial planner senior di Indonesia, maka saya pun mengajak beliau untuk live Instagram waktu itu. Tentunya juga membahas seputar kasus Jouska. Kendati demikian, selebihnya membahas seputar perencanaan keuangan untuk milenial.

Live JefferlyHelian bersama Safir Senduk.

Dalam live tersebut, saya bertanya pada Mas Safir. “Mas, kapan seseorang membutuhkan financial planner?

Menurut beliau, seseorang butuh financial planner ketika orang tersebut memiliki beberapa tujuan keuangan sekaligus (misal: 3-5 tujuan keuangan). Hadirnya financial planner akan membantu klien/orang tadi untuk merencanakan keuangan mereka. Dengan demikian, kalau tujuan keuangan kita masih sedikit/dana kita masih sedikit maka sebenarnya kita masih bisa mengelola keuangan sendiri.

Dan kebanyakan target dari financial planner ini memang kalangan menengah dan atas. Yang tentunya tujuan keuangan mereka beragam dan dana nya juga ada.

Kendati demikian, bukan berarti kita tidak perlu mengelola keuangan. Tentu saja perlu. Nah baiknya, Mas Safir juga memberikan berbagai tips pengelolaan keuangan untuk pemula. Khususnya untuk para milenial juga. Ini ulasannya.

Tips dan Cara Mengelola Keuangan Untuk Milenial dan Pemula

Inilah panduan mengelola keuangan untuk milenial yang disarankan oleh Safir Senduk.

1. Pilih Profesi yang Tepat

Langkah fundamental dan penting untuk milenial adalah memilih profesi/pekerjaan yang tepat. Tepat di sini dalam arti sesuai dengan passion, hobi, ataupun nilai-nilai yang dianut oleh si milenial. Kenapa? Sebab pekerjaan/profesi yang tepat akan membantu milenial menghasilkan pendapatan yang memadai. Nantinya hasil dari pendapatan tersebut yang akan dikelola.

Selain itu, milenial juga sebaiknya fokus pada peningkatan karir/bisnis mereka. Kenapa? Sebab ketika karir/bisnis si milenial menanjak, maka penghasilannya akan bertambah. Nah tentunya dengan penghasilan yang lebih, si milenial bisa menabung dan berinvestasi dengan lebih leluasa. Plus tujuan-tujuan keuangannya pun bisa beragam.

2. Berapapun Penghasilan Usahakan Menabung 10-30%

Berapapun penghasilan milenial, sebaiknya tabung 10-30% dari penghasilan tersebut. Misalkan gaji masih UMR (anggap saja 4 juta), maka usahakan bisa menabung 10-30% (400 ribu – 1,2 juta) per bulan.

Menurut saya, kebiasan menabung ini penting. Sebab akan membentuk kebiasaan yang baik bagi kita. Ketika kita sudah terbiasa menabung 10-30%, maka mudah-mudahan berapapun penghasilan kita, kita tetap terbiasa menabung. Andaikan suatu hari penghasilan kita 100 juta/bulan, maka mudah-mudahan masih bisa menabung 10-30 juta per bulan.

Untuk sarana menabung, ada banyak pilihan yang bisa dipakai. Salah satu instrumen yang bisa dipilih misalkan: emas. Emas ini menarik sebab bisa dibeli dengan modal yang relatif kecil. Plus risiko invest/nabung emas juga relatif lebih kecil dibandingkan instrumen seperti reksadana ataupun saham.

3. Belajar Untuk Tidak Boros

Agar bisa menabung, maka jangan boros. Menurut Safir, kalangan milenial saat ini punya tantangan dan godaan yang lebih besar. Jadi sulit untuk tidak konsumtif. Kendati demikian, sifat tidak boros tadi juga bisa kita tanamkan dalam diri kita.

Saya pun sependapat dengan Mas Safir.

4. Harus Punya Proteksi

Milenial juga perlu melengkapi diri dengan proteksi. Dalam hal ini tentu saja asuransi. Untuk yang belum menikah, asuransi yang paling penting adalah asuransi kesehatan. Nah untuk yang sudah berkeluarga, tentu juga perlu memiliki asuransi jiwa.

Dalam hal ini asuransi bertujuan untuk keperluan proteksi. Saya pun pernah mendengar langsung dari salah satu financial planner, bahwa fungsi asuransi adalah proteksi. Bukan investasi. Jadi sebaiknya jangan mencampur adukkan antara proteksi dan investasi.

5. Jika Investasi, Bisa Targetkan Jangka Panjang

Sebelum berinvestasi, Safir menyarankan agar milenial juga memperbanyak pengetahuan. Khususnya pengetahuan dan pemahaman yang baik/bagus tentang instrumen keuangan. Terkait instrumen investasi, dapat memilih instrumen seperti:

  • Emas,
  • saham/reksadana,
  • properti.

Selain itu, saya juga menyarankan Anda mempelajari obligasi, khususnya obligasi dari Pemerintah Indonesia.

Lalu karena milenial ini masih punya tujuan keuangan jangka panjang, maka pilihan investasi pun juga bisa ditujukan untuk target jangka panjang. Nah dalam hal ini, saham/reksadana dan properti dapat menjadi pilihan yang menarik.

Anyway, jika Anda tertarik belajar investasi saham, Anda bisa pelajari langkah investasi saham untuk pemula di video ini.

3 Tips Mengatur Keuangan di Masa Resesi

Meski belum terkena resesi, tak ada salahnya jika kita bersiap andaikan Indonesia resmi resesi. Untuk itu, Safir juga membagi beberapa tips pengelolaan keuangan di masa pandemi ini. Berikut tips-tipsnya.

1. Pastikan Dana Cadangan/Dana Darurat Siap dan Ada

tips merencanakan keuangan di masa pandemi

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah siapkan dana cadangan/dana darurat Anda. Kita tidak tahu seberapa lama masa resesi akan terjadi. Kita belum tahu kapan pandemi akan berakhir.

Di tengah ketidakpastian tersebut, korban bisa jadi makin banyak. PSBB mungkin saja diperpanjang. Tentunya hal tersebut pasti akan berdampak pada ekonomi.

Nah hadirnya dana darurat dapat membantu kita ketika ada pengeluaran-pengeluaran mendesak/darurat.

Berapa besar dana darurat?

Banyak financial planner yang menyarankan agar kita memersiapkan dana darurat dengan besar 3-6 bulan pengeluaran. Atau lebih baik lagi jika bisa sampai 12 bulan (1 tahun pengeluaran).

2. Fokus Pada Pengeluaran Penting dan Mendesak

Safir juga mengajak agar kita lebih selektif dalam hal pengeluaran. Ia menyarankan agar kita fokus pada pengeluaran yang sifatnya penting dan mendesak.

Saya pun sependapat. Bahwa penting agar kita bersiap dalam keadaan tidak pasti ini.

Hanya saja, saya juga punya pemikiran lain. Ketika kita memang masih punya rezeki lebih, tak ada salahnya juga untuk melakukan konsumsi yang cukup juga. Sebab konsumsi dan spending yang kita lakukan bisa membawa dampak bagi perputaran roda ekonomi.

3. Pertahankan Uang Cash Selama Mungkin

Safir juga menyarankan agar kita menjaga dan memegang uang cash. Sebab kita tidak tahu akan ada pengeluaran apa di waktu yang akan datang. Di masa pandemi dan resesi pun ada banyak ketidakpastian. Untuk itu aman jika kita menjaga uang cash dalam porsi yang cukup.

Ini pendapat saya. Khusus untuk Anda yang berinvestasi, apalagi di pasar saham ataupun properti, adanya uang cash yang banyak akan membantu Anda. Anda bisa mendapatkan aset-aset/saham-saham bagus dengan harga lebih murah (diskon). Kenapa? Sebab ketika resesi biasanya banyak saham dan aset yang berjatuhan harganya.

Seperti pengalaman yang pernah saya bagikan di video ini. Pengalaman saya mendapatkan untung yang lumayan di saham BBRI dan saham HSMP ketika masa pandemi di 2020.

Tips Penting Lain: Tetap Tenang dan Kerjalah Seperti Biasa

Tips lain yang diberikan oleh Mas Safir adalah pastikan kita tetap tenang. Apalagi jika kita masih bisa bekerja/berbisnis, maka kita sebaiknya bekerja seperti biasa. Sebab resesi di luar negeri belum tentu langsung berdampak pada keseharian kita. Walaupun secara makro ekonomi pasti ada pengaruh. Namun dalam keseharian, bisa jadi dampaknya tak secara langsung ke kita.

Dan beruntungnya kita di Indonesia, pasar domestik kita sangat besar. Kita tahu bahwa porsi ekonomi kita didorong oleh konsumsi domestik. Ini menjadi semacam berkat bagi ekonomi Indonesia. Ketika negara-negara lain melambat atau bahkan resesi, untungnya masih ada konsumsi domestik yang jadi pendorong roda ekonomi dalam negeri kita.

Tips Mempersiapkan Masa Pensiun 

tips mempersiapkan masa pensiun

Dalam live tersebut, saya dan Mas Safir juga sempat membahas tentang persiapan masa pensiun. Beberapa tips pengelolaan keuangan untuk pensiun antara lain sebagai berikut.

1. Miliki Aset yang Bisa Jadi Sumber Penghasilan Anda

Akan sangat baik ketika Anda punya aset yang bisa menghasilkan income di masa penisun Anda. Contoh aset ini misal:

  • Saham yang sudah naik banyak/luar biasa,
  • Properti yang memberikan pendapatan sewa.
  • Bisnis yang menghasilkan uang guna membiayai pengeluaran rutin Anda.

Tentu saja, aset-aset ini akan sangat baik kalau kita bentuk dari usia muda. Misalkan Anda beli saham ketika usia Anda masih 20-30 tahun. Yang mana saham tersebut akan jadi simpanan investasi jangka panjang Anda. Atau usaha yang sudah Anda rintis dari usia 20-30 tahunan.

2. Contoh Bisnis yang Cocok Untuk Masa Pensiun

Safir juga membagi tips untuk yang mau berbisnis di masa pensiun. Safir menyarankan agar kita membangun bisnis di bidang yang berkaitan dengan bidang keahlian kita. Syukur-syukur kalau bisa bisnis tanpa modal/bisnis modal kecil.

Contoh bisnisnya misal: bisnis konsultan. Kita dapat menjadi konsultan di bidang yang kita kuasai. Misalkan selama ini kita berkarir sebagai pakar/praktisi di bidang tertentu, nah kita bisa membuka perusahaan konsultan di bidang tersebut. Bisnis semacam ini bisa dijalankan dengan modal relatif minim. Berbekal keahlian, koneksi, reputasi, dan pengalaman Anda.

Selain itu, jika Anda punya properti maka Anda bisa maksimalkan pendapatan sewa dari properti tersebut. Pendapatan sewa tersebut dapat berasal dari:

  • Pendapatan sewa kos-kosan,
  • Pendapatan sewa dari kios/toko milik Anda,
  • Pendapatan sewa dari ruko/rukan yang Anda sewakan,
  • Sewa apartemen Anda.

Tips Lain dari Saya: Berhati-Hati dan Bekali Diri Anda

Saya juga punya tips nih. Tipsnya adalah berhati-hati dan bekali diri Anda dengan pemahaman yang baik. Kenapa? Sebab menjelang masa pensiun pasti akan ada banyak tawaran keuangan untuk Anda. Mulai dari yang menawarkan kerja sama bisnis, menawarkan peluang bisnis, menawarkan ajakan investasi, dan banyak lagi.

Saran saya: selektif, waspada, dan pelajari betul tawaran yang datang pada Anda. Kenapa? Sebab ada banyak kasus orang yang kehilangan dana pensiun akibat bisnis yang gagal ataupun investasi bodong. Nah kita mesti hati-hati betul dengan hal semacam itu. Bekali diri Anda dengan pengetahuan dan pemahaman yang mencukupi. Selalu pelajari semua produk/tawaran keuangan yang datang pada Anda. Pelajari legalitas/izin tawaran tersebut. Sesuaikan produk keuangan dengan kebutuhan dan values Anda.

Nah pembaca, itulah pembahasan seputar pengelolaan keuangan. Baik itu untuk milenial ataupun untuk yang bersiap memasuki masa penisun. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di konten lainnya.

Kalau ada pertanyaan seputar pengelolaan keuangan, Anda bisa kontak dan cek langsung media sosial Safir Senduk.

Kalau mau belajar investasi saham, pastikan Anda belajar dari sumber terpercaya. Yakni dari Kanala ID.

Butuh mentor untuk investasi saham? Ikuti Program Private Mentoring Investasi Saham dari Kanala IDKlik di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here