Kembali berjumpa di artikel seputar investasi saham. Di artikel sebelumnya, saya sudah menceritakan tentang 10 pelajaran penting dari buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal. Di artikel bagian 1 tadi, saya sudah membahas 5 ajaran inti dari buku Pak Joeliardi Sunendar yang berjudul Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal  tadi.

Nah di artikel ini, kita akan lanjutkan pembahasannya. Inilah pelajaran-pelajaran penting dari buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal. Ini adalah artikel bagian 2.

6. ROE, Indikator Wajib Untuk Dicermati

Salah satu indikator terpenting dalam menilai sebuah perusahaan adalah Return on Equity (ROE). ROE mengindikasikan kemampuan perusahaan menghasilkan profit dari kekayaan bersih (ekuitas) yang mereka miliki. Semakin tinggi ROE maka tentu semakin baik.

Ambil contoh, Anda punya dana 100 juta Rupiah. Lalu Anda tempatkan dana 100 juta tadi di deposito dengan bunga 6,5% per tahun. Dengan demikian, Anda akan menghasilkan 6,5 juta setiap tahunnya. Singkat kata, ROE Anda adalah 6,5%. Bunga deposito tadi menjadi ROE Anda.

Saya menganggap ROE sebagai indikator “kecepatan” perusahaan dalam menggandakan kekayaan pemegang saham. Semakin tinggi ROE, maka semakin cepat laju perusahaan dalam melipatgandakan kekayaan. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan ROE-nya konsisten di angka 25%, maka hanya butuh sekitar 4 tahun untuk melipat duakan kekayaan perusahaan tersebut.

Ini contoh perhitungannya.

  • Ekuitas awal: 100, ROE: 25% per tahun (konsisten)
  • Tahun 1: 100 + 25%*100 = 125.
  • Tahun 2: 125 + 25%*125 = 156,25.
  • Tahun 3: 156,25 + 25%*156,25 = 195,31.
  • Tahun 4: 195,31 + 25%*195,31 = 244,13. 

See? Dari perhitungan tadi terlihat betapa dahsyatnya angka ROE yang konsisten.

Oleh karena itu, salah satu indikator paling utama yang saya pakai dalam memilih saham adalah ROE. Saya cenderung menyukai berinvestasi di perusahaan dengan tingkat ROE yang tinggi. Syarat minimal yang saya terapkan adalah minimal ROE sebuah perusahaan harus dua kali dari bunga deposito/ kupon obligasi pemerintah. Kenapa? Sebab kalau ROE-nya di bawah bunga deposito, buat apa capek-capek mikirin bisnis dan investasi? Taruh aja dananya di deposito. Tidak ada risiko.

Tentunya, selain ROE, indikator lain seperti: Price Earning Ration, Price Book ValueDebt to Equity, Price to Cash Flow Ratio juga tetap saya perhatikan. Hanya saja, hal pertama yang saya lihat biasanya adalah ROE. (Baca juga: Panduan Lengkap Memilih Saham Untuk Pemula). 

7. Kunci Sukses Menemukan Multibagger Stocks

Dalam bukunya, Pak Joe sempat bercerita tentang pengalamannya menemukan multibagger stocksMultibagger stocks adalah sebutan untuk saham perusahaan yang dapat memberikan keuntungan berlipat-lipat. Di bukunya, Pak Joe bercerita tentang Indika Energy dan Harum Energy.

Ini adalah salah satu pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari buku Pak Joe.

Sebenarnya kunci menemukan multibagger stocks sudah berulang-ulang diceritakan oleh Pak Lo Kheng Hong dalam berbagai seminarnya. Kalau Anda pernah nonton video seminar Pak Lo, Anda pasti tahu cara yang dipakai oleh Pak Lo untuk menemukan multibagger stocks. Misal: saham INKP, saham MBAI, CPIN, UNTR, JPFA, dll.

Di tahun 2018, INKP menjadi saham multibagger. Harganya melambung tinggi.

Hanya saja, perspektif yang ditawarkan oleh Pak Joe juga menjadi sudut pandang baru bagi saya. Inilah beberapa kiat menemukan multibagger stocks yang saya pelajari dari Pak Joe.

  • Memanfaatkan perusahaan yang bersifat siklus. Contohnya: perusahaan batubara. Indika Energy dan Harum Energy merupakan perusahaan yang bisnisnya berkaitan dengan batubara. Saham-saham yang sifatnya cyclical ini punya momentum untuk terbang tinggi harganya, namun juga bisa jatuh dalam. Kenapa? Sebab ketika batu bara memasuki masa boom, maka harga saham batubara cenderung akan menguat. Demikian saat harga batu bara anjlok, maka harga saham batu bara juga akan mengikuti. Nah ketika harga saham anjlok, ada kalanya pasar menjadi tidak rasional. Harga sebuah perusahaan batubara dihargai jauh di bawah nilai intrinsiknya. Misal: PER-nya sangat rendah, PBV-nya sangat rendah, dsb. Alhasil, tidak ada pilihan lain selain saham-saham ini menjadi terbang harganya. Selain sektor batubara, sektor properti juga dikenal dengan siklusnya.
  • Hitung valuasi. Pada intinya, kita juga akan menghitung valuasi. Ketika kita menemukan sebuah saham yang valuasinya sangat murah, jelas saham tersebut berpotensi akan menjadi multibaggerKhususnya jika perusahaan tersebut baik-baik saja, tapi pasar menjadikannya salah harga. Indikator seperti: PER dan PBV dapat menjadi pintu masuk awal untuk melihat valuasi sahamnya. Selain itu, pelajari juga cashflow perusahaan tersebut. Bisa jadi di sana terungkap mutiara terpendamnya.
  • Hitung margin of safety. Untuk menghitung margin of safety, hitunglah nilai intrinsik dari perusahaan tersebut. Selanjutnya cek apakah harga beli kita jauh di bawah nilai intrinsik tersebut. Singkatnya, jika harga (price) jauh di bawah nilai intrinsik (value), maka jelas itu akan menguntungkan buat kita. Bagaimana cara menghitung nilai intrinsik? Salah satu cara yang bisa dipakai adalah memakai metode discounted cashflow method. Yakni dengan memperkirakan potensi cash flow perusahaan di masa yang akan datang, lalu dikaitkan dengan harga saham hari ini. Tapi cara ini relatif lebih bikin pusing. Kalau yang paling gampang, ya lihat saja PER dan PBV perusahaan tersebut. Jika fundamental perusahaan bagus, dan PER/PBV nya rendah, hampir pasti saham tersebut aman 🙂
  • Sabar dan bertahan. Setelah kita membeli saham yang berpotensi multibagger, kita juga harus menunggu. Menunggu sampai pasar menghargai saham kita dengan wajar atau bahkan mahal. Lamanya waktu menunggu ini bisa hanya dalam hitungan bulan bahkan tahun. Kita tidak tahu seberapa lama pasar akan tetap tidak rasional. Oleh karena itu, PR kita adalah menunggu hingga harga saham mencapai nilai wajar atau sampai melebihi nilai intrinsiknya.

Jika harga suatu saham sudah jauh di atas nilai instrinsiknya, maka sudah saatnya kita melepas saham tersebut. Kenapa? Sebab pasar sudah makin tidak rasional (menuju gila). Di saat itulah kita harus melepas saham kita untuk merealisasikan profit.

8. Cara Melakukan Diversifikasi

Strategi diversifikasi termasuk salah satu strategi penting dalam berinvestasi. Tiap orang punya strategi diversifikasi yang berbeda.

Setelah membaca buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal, saya menjadi semakin sadar pentingnya diversifikasi. Tentunya bukan sembarang diversifikasi, melainkan diversifikasi yang matang dan maksimal.

Insight yang saya dapatkan dari buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal adalah strategi diversifikasi untuk tiap orang pasti berbeda-beda. Jumlah dana yang dikelola, profil risiko, tingkat pengetahuan, mental, semua menentukan porsi diversifikasi yang tepat. Bisa jadi strategi diversifikasi untuk si A tidak cocok untuk si B.

Bagi saya, diversifikasi bukanlah membeli puluhan saham dengan alasan mencari “aman”. Saya lebih menyukai membeli sedikit saham (tapi dalam jumlah besar) dan berinvestasi secara terfokus. Diversifikasi yang saya lakukan bertujuan untuk membentuk dry powder (dana cadangan). Oleh karena itu, instrumen diversifikasi yang saya pakai pun relatif sedikit. Mayoritas saya tempatkan di saham, lalu sebagian kecil saya sisihkan di deposito, kas, dan mungkin nantinya obligasi ritel/SBR.

Dalam fase ini, saya memperlakukan instrumen lain sebagai tempat menaruh dana cadangan saja. Investasi utama tetap di saham.

Poin penting lain adalah kita bisa mendiversifikasi aset kita dalam bentuk mata uang lain. Jadi tak melulu dalam mata uang Rupiah, tapi kita juga bisa simpan dalam bentuk mata uang lain (seperti: dollar, Euro, dsb). Dengan demikian, kita tidak hanya berinvestasi di pasar modal Indonesia, tetapi juga bisa mencari peluang di bursa luar lainnya. Perlu kita ingat, bahwa dari tahun 2014 hingga 2019, Rupiah sudah terdepresiasi secara lumayan terhadap dolar Amerika. 🙂 Anda bisa cek datanya sendiri.

9. The Power of Compounding Interest

Salah satu konsep penting yang tidak dipahami sebagian besar pelaku pasar modal adalah the power of compoundingThe power of compounding interest inilah yang menjadi senjata Warren Buffett untuk menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Di artikel Investasi Saham: Dengan Duit 300 Ribu Kamu Dapat Apa?saya sudah menunjukkan bahwa dengan ROE konsiten 18% setahun, sebuah perusahaan bisa melipatduakan kekayaannya hanya dalam waktu 4 tahun. Di artikel tadi saya pakai kasus proyeksi perhitungan nilai buku untuk Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM).

Bagi kita yang memilih untuk menjadi investor jangka panjang, maka kita perlu percaya pada konsep the power of compounding interestPower of compounding inilah yang memungkinkan kekayaan pemegang saham BCA, BRI, Unilever, atau Telkom terbang tinggi dalam puluhan tahun terakhir.

Sayangnya, kekuatan compounding ini baru akan terasa efeknya jika konsisten dan terjadi dalam periode yang panjang. Makanya mungkin sebagian pelaku pasar tidak sabar untuk menunggu bertahun-tahun sampai puluhan tahun. Boro-boro nunggu satu tahun, hold saham 2 minggu saja sudah gerah. Untung baru 3-5 % sudah buru-buru take profit. 😉

10. Bursa Memang Tidak Kenal Ampun, Tapi Bursa Juga Baik Bukan Main

Dalam salah satu seminarnya, Lo Kheng Hong pernah berujar bahwa “Tuhan maha pengampun, tapi bursa efek tak kenal ampun”. Memang benar adanya. Ketika kita terjebak pada saham yang salah, pada perusahaan yang manajemennya berengsek, maka jelas hukuman yang kita terima amatlah pahit. Tentunya ini jadi peringatan untuk para investor agar lebih berhati-hati dalam berinvestasi.

Namun di sisi lain, bursa efek juga menawarkan kebaikan yang luar biasa. Melalui bursa efek kita bisa ikut jadi pemilik bisnis yang bagus. Punya bank, punya perusahaan rokok terbesar di Indonesia, punya perusahaan jalan tol.

Kalau sekarang kita ingin buka bank, jelas sangat sulit. Siapa yang mau berpartner sama kita? Boro-boro bisa kerja sama dengan BRI atau BCA, mau ketemu direktur mereka saja bisa-bisa kita ditolak duluan. Tapi melalui Bursa Efek, kita bisa ikut jadi pemilik bank BRI dan BCA. Dan tidak harus dengan modal awal yang besar. Gak perlu tuh menyiapkan dana triliunan Rupiah. Hanya dengan beberapa ratus ribu atau juta pun kita sudah punya sebagian kecil kepemilikan di BCA/BRI (meski amat-amat kecil 🙂 )

Tak hanya itu, adakalanya bursa efek memberi kita kesempatan membeli suatu perusahaan dengan harga jauh di bawah harga pasarnya. Misalkan nih Anda punya perusahaan batubara. Nilai buku perusahaan itu adalah 1.000. Kalau orang-orang mau beli perusahaan Anda, berapa harga yang Anda minta? Paling tidak Anda akan minta harga 1.000 dong? Itu kalau acuannya nilai buku. Tapi kalau pakai enterprise value, angkanya bisa beda lagi. Tapi Anda pasti paling tidak minta harga 1.000 dong.

Tapi di bursa efek, kadang kita bisa menemukan perusahaan yang “dijual” jauh di bawah harga bukunya. Harga buku per saham 1.000, tapi harga sahamnya hanya 500? Lah kita malah bisa beli perusahaan dengan diskon. Ibaratnya kita beli perusahaan nilainya 1.000, kita malah dapat cashback 500 Rupiah. Kurang baik apa coba?

Saya masih terkagum-kagum dengan kebaikan bursa efek. Saya membayangkannya seperti ini. Misalkan seperti saat saya membeli saham Bank Jawa Timur (BJTM). Ketika itu, saya beli dengan harga setara nilai bukunya (PBV = 1x). Itu kira-kira begini.

Saya mau buka bank di daerah Jawa Timur. Daripada repot-repot urus izin, menyiapkan modal, bikin kantor, nyari nasabah, saya ikutan sama Bank Jatim saja. Berkat bursa efek, manajemen Bank Jatim “seolah-olah datang ke saya”, lalu nawarin, “eh Jeff, mau ikutan bisnis bank di Jawa Timur, ndak?” “Kamu gak usah repot-repot, ayo jadi partner kita aja. Kamu cukup menanamkan modal seharga nilai buku bank kita. Sisanya kamu tinggal tidur”.

Ketika saya pelajari “proposal”nya Bank Jatim, saya lihat data keuangan mereka, liat prospektusnya, melihat laporan manajemennya, lihat track record kinerja, wah ternyata bagus. Maka langsung saja saya setuju. Saya pun beli sahamnya. Singkat kata, saya ataupun Anda bisa jadi pemilik bank Jatim tadi. Plus tiap tahun juga akan dapat dividen (kalau mereka untung dan bagi dividen).

Pada kasus lain, malah saya dan Anda ditawari perusahaan-perusahaan bagus dengan harga di bahwa nilai wajarnya (di bawah harga buku). Sudah dapat perusahaan bagus, kita malah dapat cashback. 🙂

Berkat membaca buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal, mindset saya ya jadi seperti tadi. Buat saya, harga saham di bursa itu sudah tidak penting lagi. Poin utama yang paling saya perhatikan adalah seberapa besar kekayaan bersih yang saya miliki lewat perusahaan-perusahaan di bursa. Kenapa? Sebab pergerakan harga yang terjadi secara harian, itu hanya merepresentasikan sebagian kecil dari nilai sebuah perusahaan.

Lihat deh, dalam sehari nilai transaksi saham bank BRI paling hanya beberapa ratus miliar Rupiah. Sementara kapitalisasi pasar bank BRI adalah 550 Triliun Rupiah. Lha pergerakan transaksi harian saja nggak nyampe 1 % dari nilai perusahaan, terus kita harus pusing-pusing melototi harga tiap hari? Bahkan sampai stres? Ngapain? Apalagi kalau memang sudah berkomitmen untuk memegang dalam jangka panjang.

Akhirnya saya paham betul arti ucapan Warren Buffett, “Our favorite holding period is forever”. Kalau kita sudah punya perusahaan yang bagus, konsisten dalam jangka panjang, sudah memberikan dividen yang banyak, modal sudah balik, untuk apa kita lepas?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here