Di bulan Juli 2019 saya mendapatkan rezeki yang luar biasa. Di bulan tersebut, saya mendapatkan kiriman buku dari Pak Joeliardi Sunendar. Tak sekadar mendapatkan buku, saya berkesempatan untuk ngobrol dan sharing langsung bersama dengan Pak Joe. Beliau adalah seorang investor yang sudah puluhan tahun berkiprah di pasar modal. Ia juga penulis buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal. Tak hanya itu, ia juga aktif menulis seputar investasi di platform Stockbit.

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal adalah buku panduan untuk mereka yang ingin berinvestasi saham dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti. Tak tanggung-tanggung, saya mensejajarkan buku ini dalam jajaran buku investasi yang layak dibaca. Bersanding manis dengan bukunya Benjamin Graham yang berjudul The Intelligent Investor

Buku cara simpel berinvestasi di pasar modal
Buku cara simpel berinvestasi di pasar modal.

Nah, di tulisan ini saya mau membagikan 10 pelajaran penting yang saya petik dari buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar ModalSama seperti tulisan-tulisan lainnya di Kanala.id, tulisan kali ini bersifat catatan pribadi saya. Jadi saya memaknai tulisan ini sebagai jurnal yang saya tulis dalam kegiatan berinvestasi di pasar modal.

Inilah 10 pelajaran paling penting yang saya petik dari tulisan Pak Joe dalam buku Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal. Ini adalah artikel bagian 1, sisanya akan saya lanjutkan di bagian 2.

1. Ajaran Inti Dalam Berinvestasi Saham

Ajaran inti yang disampaikan Pak Joe sangatlah sederhana. Saking sederhananya, orang mungkin sudah bosan mendengarkan nasihat ini. Ajaran/nasihat yang ia berikan adalah:

  1. Beli saham perusahaan yang baik/bagus,
  2. Beli saham tersebut di harga yang baik,
  3. Gunakan periode investasi jangka panjang.

Sudah, itulah inti dari investasi saham. Kita beli saham perusahaan yang bagus, di harga yang baik, dan niatkan investasi kita untuk jangka panjang.

Tapi kan gak bisa gitu? Gimana dengan perusahaan komoditas seperti batu bara yang bisnisnya punya siklus? Gimana dengan perusahaan properti yang ada siklusnya?

Pak Joe sering menyebut bahwa dalam menyusun portfolio, ia kerap berinvestasi pada perusahaan yang dikategorikan sebagai core stock. Yakni perusahaan yang ingin kita pegang selamanya, tanpa harus kita jual.

Yang jadi pertanyaan, apakah saham batu bara, properti, dapat kita kategorikan sebagai core stock?

Salah satu saham tipe core stock yang sering disebut oleh Pak Joe adalah Bank BRI. Mengapa Bank BRI layak dikategorikan sebagai core stock? Sebab earning per share dan equity Bank BRI terus melejit tinggi sejak mereka IPO. Earning per share yang terus tumbuh dan meningkat secara konsisten menjadi salah satu indikator suatu perusahaan layak kita sebut sebagai core stock.

Nah masalahnya, kadang perusahaan-perusahaan bagus ini, harganya ketinggian. Ambil contoh, pada 19 Juli 2019, harga saham UNVR (Unilever Indonesia) adalah 45.800 per lembar. Ini setara dengan 38 x PBV (Price to book value ratio). Artinya harga saham UNVR dihargai pada 38 kali harga buku-nya. Angka yang premium dan valuasi-nya relatif mahal.

Jadi, meski UNVR bisa kita kategorikan sebagai perusahaan yang bisa kita pegang selamanya, entry point di angka PBV 38 x patut kita cermati. Itu artinya, jika tidak ada peningkatan earning per share di masa depan, butuh 38 tahun hingga investasi kita balik modal. Waduh, lama juga ya. Di sisi lain saya menemukan perusahaan bagus dengan PER hanya 5 – 8 kali.

Namun ini akan jadi lain cerita ketika entry point-nya adalah kita beli UNVR saat mereka IPO. Atau ketika tahun 2006 atau 2007 lalu. Jelas harga hari ini sudah tidak perlu lagi kita pedulikan.

Pergerakan harga saham Unilever Indonesia sejak tahun 2006 hingga 2019

Nah, barusan saya sebut, seandainya kita beli UNVR di tahun 2006. Ketika itu harganya sekitar 4000-an per lembar. Di tahun 2019, harganya sudah 45 ribuan. Bahkan pada awal 2018 lalu, harga UNVR sempat menyentuh 55 ribu per lembar. Artinya apa? Artinya ada periode waktu yang cukup panjang yang harus dilalui ketika kita ingin harga saham terbang, meroket, dan memberi kekayaan besar bagi para pemegang saham.

Untuk konteks Unilever, kita membutuhkan periode belasan tahun untuk melihat kenaikan harga yang signifikan. Jadi, kita perlu melihat dari sudut pandang periode waktu yang lebih panjang. Alias berinvestasi untuk jangka panjang. Tentunya strategi investasi jangka panjang ini relevan ketika kita bicara perusahaan core stock. Perusahaan yang ingin kita pegang selama mungkin.

Ya itulah salah satu cara sukses berinvestasi saham. Mengingat nasihat Pak Joe tadi saya juga jadi teringat dengan yang sering disampaikan oleh Lo Kheng Hong. (Baca juga: Pelajaran Hidup yang Saya Petik dari Lo Kheng Hong dan Warren Buffet)

Saat seminar Lo Kheng Hong selalu menekankan bahwa kunci sukses ia menemukan saham-saham multibagger tadi memakai cara-cara yang relatif sederhana. Ketika ditanya, bagaimana cara menghitung valuasi, Pak Lo selalu menjawab memakai indikator PER (Price Earning Ratio) dan PBV. As simple as that.

Jadi memang jurus-jurus jitu berinvestasi saham itu sederhana. Saking sederhananya, kadang malah disepelekan. Padahal sudah memberi bukti yang luar biasa.

2. “Tidak Peduli Lagi” pada Harga di Pasar

Salah satu inspirasi yang saya petik dari nasihat Pak Joe adalah agar berfokus pada nilai intrinsik yang ada di dalam suatu perusahaan. Dalam bukunya Pak Joe ini beberapa kali menyebut bahwa ada orang-orang di luar sana yang sibuk mengajar tentang value investing, namun kerangka pikirnya tidak benar-benar value investing. And I think I know that guy. 😉

Kenaikan harga suatu saham pada akhirnya akan ditentukan oleh kinerja fundamental suatu perusahaan. Kenapa harga UNVR, BBRI, atau BBCA melesat pesat dalam belasan tahun terakhir? Tidak lain tidak bukan karena kinerja keuangan mereka yang juga cemerlang.

Ketika menanamkan prinsip value intrinsik, maka orientasi saya bukan pada harga yang terbentuk di pasar. Melainkan, orientasi saya adalah seberapa besar kenaikan earning per share (EPS) yang terjadi pada suatu perusahaan. Ketika EPS naik, maka kekayaan pemegang saham juga akan terus naik. Sebab laba yang dikumpulkan tersebut, pasti akan menambah kekayaan pemegang saham/pemilik bisnis. Entah itu diberikan dalam bentuk dividen ataupun ditahan dalam bentuk penambahan equity/modal bersih perusahaan.

Jadi, mau harga di bursa jungkir balik kek, kalau selama periode investasi jangka panjang tadi kekayaan real pemegang saham terus meningkat, maka saya tidak terlalu peduli sih. Kecuali dalam kondisi terdesak di mana saya harus menjual saham karena butuh uang. Maka jelas ini beda cerita.

3. Membangun Kinerja Bisnis Butuh Waktu

Salah satu bentuk ketidaksinkronan antara bisnis dan harga di pasar saham adalah keduanya merupakan hal yang berbeda.

Ketika kita bicara bisnis, maka untuk menciptakan suatu kinerja butuh waktu yang harus dilalui. Paling singkat kita butuh waktu 1 tahun untuk mengatakan suatu bisnis itu baik atau tidak. Kenapa? Sebab setelah 1 tahun, kita tahu, “oh bisnis ini untung, bisnis ini rugi…”.

Namun apa yang terjadi?

Di pasar saham, harga sebuah bisnis dipaksa berubah setiap detik dari Senin – Jumat, jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Bagaimana mungkin, saham suatu perusahaan yang kinerjanya naik 15% setahun, tapi harga bisnisnya bisa berubah-ubah setiap hari? Sesuatu yang bikin saya geleng-geleng kepala. Tapi inilah asyiknya perubahan harga saham tiap hari.

Alhasil, market ini tidak rasional. Ketika dia euforia, semua harga naik, tak peduli barang bagus atau jelek. Tetapi ketika lagi pesimis, semua terkena dampaknya. Ketika kinerja fundamental suatu perusahaan tetap bagus, tapi pasar dilanda pesimis maka langsung harga bisnis tadi terjun bebas.

Alhasil, ketika kita memutuskan untuk mengambil periode waktu investasi jangka panjang, maka fokus kita ada pada bisnis perusahaan tersebut. Apakah kekayaan perusahaan terus bertambah dari waktu ke waktu? Bukan pada berapa harga perusahaan tersebut pada hari Senin atau Rabu depan.

4. Gunakan Dana Nganggur Untuk Investasi Saham

Salah satu hal penting dalam investasi saham adalah pastikan kita memakai dana yang bersifat dingin. Yakni dana yang tidak akan kita pakai dalam periode jangka pendek (1 – 3 tahun ke depan). Kenapa? Sebab harga di bursa kadang tidak rasional. Dan hampir selalu begitu.

Mau sebagus apapun bisnis kita, kalau pada saat yang sama orang-orang panik dan jualan saham, maka harga perusahaan tadi pasti akan drop.

Bayangkan ketika saham yang kita pegang sedang turun 30% lalu di hari itu/minggu itu/bulan itu juga kita butuh dana? Maka mau tidak mau kita akan jual rugi saham tersebut. Kita malah menjual di saat harusnya membeli. Lalu malah membeli ketika kita harusnya menjual.

Alhasil, untuk meminimalkan risiko kerugian, sebaiknya kita memakai dana nganggur yang tidak akan dipakai dalam jangka pendek. Kalau dalam jangka pendek, sebaiknya memang ditempatkan di instrumen yang relatif lebih rendah risikonya. Seperti deposito atau surat utang pemerintah.

Kecuali Anda memang sudah siap dan menyadari betul potensi kerugian Anda.

5. Selalu Siapkan Dry Powder

Dalam bukunya, Joeliardi Sunendar sering menyebut istilah dry powderDry powder adalah extra cash yang kita sisihkan sebagai dana cadangan dalam investasi saham. Tujuan dry powder adalah menjadi “senjata cadangan” kita ketika menghadapi gejolak market/koreksi/krisis pasar saham.

Di tahun 2018 lalu, kekuatan dry powder sudah saya rasakan sendiri. Di pertengahan 2018, harga saham BBRI sempat jatuh dari 3800-an di awal tahun menjadi 2800-an di pertengahan tahun. Bayangkan, jatuh sekitar 26% dalam hitungan bulan. Apa yang terjadi? Saya yakin pasti banyak investor yang panik dan turut menjual saham BBRi yang mereka miliki.

Momen ketika harga saham BBRI sempat anjlok di pertengahan 2018.

Berkat adanya dry powder, saya bisa ikut menampung BBRI di harga 2900-3100’an. Alhasil avarage harga saya untuk BBRI menjadi makin menarik. Jadi ketika terjadi koreksi mendalam terhadap saham BBRI pun saya tidak perlu khawatir. Lha wong avarage saya masih aman-aman saja.

Dan memang sudah kita lihat sendiri bahwa sebagus apapun kinerja suatu perusahaan, pasti akan ada momen-momen koreksi. Tak usah jauh-jauh, setiap tahun pasti terjadi koreksi wajar terhadap harga suatu saham. Nah momen-momen ketika koreksi tadi dapat menjadi peluang untuk kita membeli saham di harga yang lebih murah/harga wajar.

Bahkan ketika tahun 2019 pun saham BBRI tetap mengalami koreksi wajar.

Tentunya strategi ini dapat kita eksekusi jika kita punya cadangan kas yang lumayan. Maka dari itu, dalam berinvestasi saham, posisi kas (extra cash) kita harus selalu aman. Ketika momen koreksi datang, bahkan krisis terjadi, extra cash  tadi dapat kita andalkan untuk meraih kemenangan dalam berinvestasi. Justru di momen-momen inilah, kita perlu belanja aset-aset berkualitas dengan harga yang jauh di bawah harga wajarnya.

Berapa banyak alokasi dry powder?

Tentunya setiap investor punya strategi dan kebutuhan yang berbeda. Untuk saya sendiri, saya mengalokasikan 20 – 25% dari nilai portofolio saya.

Selain 5 nasihat di atas, masih ada banyak lagi pelajaran berharga yang saya petik dari buku Pak Joeliardi Sunendar. Nasihat-nasihat inti lainnya akan saya share di seri tulisan berikutnya.

Jika Anda punya pertanyaan seputar investasi saham atau ingin mengikuti sharing saya seputar saham, mari follow dan komen di akun Instagram saya: @JefferlyHelian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here