Dulu saya pernah menulis tentang ketakuan orang dalam investasi saham. Anda bisa baca tulisanya di sini: Kenapa Sih Takut dengan Investasi Saham? Padahal…

Tulisan ini hanya sekadar tuangan pikiran saya. 

Fenomena yang Saya Amati

Saya sering menjumpai fenomena ketika orang-orang berani membuka bisnis. Bahkan tak sedikit membuka bisnis ataupun berinvestasi dengan hanya modal nekat.

Ya tentu ini tidak salah. Lha wong namanya cari uang ya, cari peluang, jelas sah-sah saja. Namun tidak sedikit yang akhirnya berujung pada kegagalan.

Orang dekat saya pun mengalami hal ini. Ketika baru mencoba bisnis, tim yang ia bentuk bubar dan bisnisnya tak jadi jalan. Bisnisnya baru sebatas rencana dan eksekusi awal. Pernah juga ia mencoba di bidang ternak. Membeli beberapa ekor sapi untuk diternakkan, namun berujung bubar, setelah sapi dan partnernya kabur.

Lain lagi dengan pengalaman investasi. Saya sering melihat cerita-cerita korban investasi bodong di akun Instagram financial planner. Belum lagi berita-berita tentang investasi bodong yang bertebaran di mana-mana. Saya bingung, kok masih ada saja ya yang bisa kena investasi bodong?

Sementara jelas-jelas ada instrumen investasi yang jelas, seperti: saham, surat utang pemerintah, obligasi, deposito, dan reksadana, tapi kenapa banyak orang yang terjebak investasi bodong.

Bilangnya, ah return 7% setahun terlalu kecil.

Ah saham terlalu berisiko.

Dan lain-lain.

Saya juga sering menemukan hal ini. Tawaran investasi yang datang bertubi-tubi. Ketika sudah memasuki usia mapan, didukung dengan kondisi finansial yang lumayan, akan muncul orang-orang yang menawarkan peluang investasi lah. Ada lagi yang bawa peluang kolaborasi, bisnis bareng. Ceritanya begitu.

Apalagi jelang masa pensiun, ketika si pensiunan dapat pesangon, mulai dah tuh datang yang nawarin MLM, investasi, ide bisnis, sampai janji-janji kebebasan finansial.

Mirisnya, kadang orang-orang ini (tanpa modal pengetahuan dan skill yang cukup), langsung berani saja berbisnis dan investasi. Ya itu tadi, hanya modal nekat saja. Hasilnya?

Belum lagi ditambah dengan sikap jemawa dan keberanian yang terlalu berlebihan. Penginnya bisnis langsung besar, ekspansi besar-besaran, buka cabang di mana-mana, beli ruko dan aset banyak. Kalau perlu pakai utang.

Mudah-mudahan bisnisnya sukses. Tapi kadang banyak juga yang berakhir gagal.

Inilah fenomena yang saya amati.

Bekal Untuk Memulai Bisnis dan Investasi

Di artikel Kenapa Sih Takut dengan Investasi Saham? Padahal… , saya menawarkan sudut pandang bahwa berinvestasi saham dapat menjadi bekal awal yang bagus untuk belajar bisnis. Apalagi untuk yang masih muda. Tak sekadar belajar bisnis, tetapi juga belajar analisis bisnis. Belajar mengenai valuasi, belajar tentang keuangan, belajar mengenai manajemen, dan lainnya.

Pertanyaan saya, bagaimana sebuah bisnis/peluang itu bagus kalau kita tidak bisa menilai valuasinya?

Bagaimana kita bisa mengatakan bisnis A ini menarik, sementara kita tidak bisa memperkirakan valuasinya? Atas dasar apa kita membuat keputusan?

Namun sayangnya, ketika kita bicara saham pun, mayoritas menganggap saham sekadar selembar kertas. Atau sekadar menganggap bahwa saham ya grafik-grafik di layar komputer yang tiap detik harganya bisa berubah. Padahal, saham itu ada basis fundamentalnya. Kalau kita beli saham Bank BRI, ya fundamentalnya bisnis dan semua aset Bank BRI itu.

Alhasil, investasi saham tidak dianggap sebagai sarana untuk belajar bisnis.

Padahal nih, kalau seseorang sudah paham analisa fundamental, sudah melek tentang keuangan, bisa menghitung valuasi, bisa membaca arus kas, ditambah dengan pengetahuan industri yang mumpuni, ia akan punya modal bagus untuk berbisnis ataupun berinvestasi.

Lha wong dia sudah terbiasa menganalisis bisnis-bisnis di luar sana. Dari perusahaan batu bara, perusahaan rokok, perbankan, perusahaan kimia, dan lain sebagainya. Ketika seseorang sudah “ditempa” dan latihan di pasar modal, harusnya ia punya bekal yang cukup untuk berbisnis atau investasi.

Jadi, ketika suatu hari ia ditawari peluang/tawaran investasi, ia dengan mudah menganalisis tawaran tersebut.

Jika suatu saat ia akan berbisnis, ia bisa menganalisis partner yang datang ke dia, model bisnisnya, prospek bisnis, dan sebagainya.

Dan yang lebih penting si orang ini akan makin percaya diri dalam membuat keputusan. Kenapa? Ya karena sudah terbiasa analisis dan belajar. Plus orang ini pasti bisa melihat hal-hal yang kadang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Harapan saya, semoga Anda dan saya yang sudah terjun dalam investasi saham bisa belajar dengan baik dan menjadikan kita investor/pebisnis yang andal.

Oh iya, sebagai penutup artikel ini, saya jadi teringat bahwa modal nekat memang perlu. Nekat dan keberanian itu penting sekali. Sebab kalau cuma tahu, tapi tidak berani dan tidak action, ya tidak akan ada yang terwujud.

Hanya saja, memang lebih baik kalau berani dan dilengkapi dengan pengetahuan + skill yang mumpuni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here