“Contohlah kakek nenek kita dulu. Si kakek hobinya nabung dan koleksi tanah, kalau si nenek hobinya koleksi emas.” Begitulah kata pembicara dalam seminar yang saya hadiri tentang investasi emas.

Di seminar tersebut, si pembicara antusias menjelaskan seputar investasi emas.

Saya termasuk orang yang tergoda dan sempat kecanduan “investasi emas”. Waktu itu, tiap kali dapat uang, saya belikan emas.

Itu terjadi sekitar 5 tahun lalu. Kini, setelah menekuni investasi saham, saya menyadari bahwa investasi emas adalah sebuah kebodohan. Atau kalau kebodohan terlalu kasar, mari kita haluskan menjadi “bukan kebijakan yang terbaik”.

Emas Bukan Investasi

Dari namanya saya sudah salah, invetasi emas. Mana ada investasi emas. Adanya nabung emas.

Hah kok bisa?

Simpelnya gini deh, kalau tahun 2019 kamu beli emas 1 kg, lalu kamu simpan emas tersebut 10 tahun. Di tahun 2029, berapa jumlah emasmu? Ya tetep satu kg.

Lah tapi kalau 10 tahun dari sekarang harga emas kan pasti naik banyak?

Iya betul, harga emas (mungkin) naik banyak. Bukan karena emasmu nambah, tapi karena nilai uang yang turun karena inflasi.

Hah gimana-gimana?

Ini grafik harga emas dalam 30 tahun terakhir. Sejak 1989. Dalam grafik terlihat harga emas melonjak tinggi. Tapi perhatikan bahwa dari tahun 1989 – 2019 ini, harga emas cuma melonojak dari 400-an ke 1300-an. Sempat melonjak tinggi di tahun 2010-2011’an.

harga emas 1989 - 2019
Grafik harga emas dari tahun 1989 – 2019

30 tahun cuma naik sekitar 3 kali lipat.

Lah tapi kalau dirupiahkan kan jadi banyak? 

Ya selama 30 tahun, nilai Rupiah sudah menurun berapa banyak terhadap dolar AS?

Harga emas kelihatan naik tinggi karena inflasi yang juga tinggi, plus konversi dari USD ke Rupiah Indonesia. Sekadar gambaran, di bulan Juni 1989, nilai 1 dolar itu sekitar 1700 Rupiah-an. Sekarang, 1 dollar sudah 14 ribuan.

Singkatnya, emas bukan investasi karena kalau kita simpan emas 1 kg hari ini, 100 tahun lagi pun jumlahnya tetap 1 kg.

Jadi, lebih tepat kalau kita sebut emas sebagai tabungan.

Emas sebagai investasi? Saya sih no ya.

Emas sebagai tabungan? Cukup masuk akal.

Emas Sebagai Tabungan

Kenapa emas bisa kita jadikan tabungan? Karena emas bersifat pelindung nilai. Kalau kita lihat perilaku pasar, ketika muncul tanda-tanda krisis, pelaku pasar akan melarikan dananya ke instrumen yang sifatnya safe haven. Selain dolar Amerika, emas termasuk instrumen safe haven.

Emas ini senjata yang cukup bagus untuk melawan inflasi. Di saat nilai uang kita tergerus inflasi, nilai emas akan jadi pelindung uang kita.

Tadi sudah lihat sendiri kan grafik harga emas dari 30 tahun lalu sampai hari ini.

Terus kalau ada orang yang beli emas ketika murah, lalu ketika mahal dijual itu apa?

Ya itu trader. Pedagang. 🙂

Pedagang kan beli murah, jual ketika harga barangnya naik. Sama aja dong kayak trader saham, trader forex, atau trader apapun.

Kalau memilih jadi trader emas tadi gimana?

Ya tidak apa-apa, terserah sih. Hanya saja, yang saya kritisi adalah kalau memilih menjadikan emas sebagai investasi untuk jangka panjang. Sebuah ide yang kurang bijak dan tidak menjanjikan pertumbuhan aset yang maksimal.

Eniwei, seperti yang sudah saya sebut, emas sebagai tabungan ide yang cukup masuk akal. Tentu lebih baik punya tabungan emas dong daripada tidak punya tabungan sama sekali.

Kriteria Investasi yang Ideal

Setelah mengerti pasar modal, saya menetapkan standar tinggi untuk sebuah investasi. Sesuatu baru saya sebut investasi kalau:

  1. Menghasilkan cash flow yang rutin dan terus menerus.
  2. Menghasilkan/punya potensi capital gain yang tinggi.

Kalau cuma salah satu, saya tidak menyebut sesuatu sebagai investasi. Contohnya apa?

Contohnya rumah. Kalau beli rumah, hanya untuk ditempati, lalu berharap harganya naik tinggi di masa depan. Saya tidak menganggap itu investasi. Kenapa? Karena rumahnya tidak menghasilkan arus kas (cash flow). Yang ada rumah tersebut menarik uang dari kantong saya, mulai dari harus bayar pajaknya, perawatannya, operasionalnya, dan sebagainya.

Ya tentu saja ini wajar kalau rumahnya dipakai sebagai tempat tinggal.

Oleh karena dua faktor tadilah saya menganggap investasi yang paling ideal adalah investasi pada bisnis. Kenapa? Karena bisnis pasti menghasilkan arus kas dan punya potensi capital gain. Kalau bisnis kita makin besar, suatu saat ketika bisnis tersebut dijual, sudah tentu harga jualnya akan naik. Jadi kita dapat capital gain.

Dan ketika saya bicara bisnis, juga termasuk saham.

Kenapa? Sebab ketika kita beli saham ya kita beli bisnis dong. Kalau mindset kita ketika membeli saham hanya sekadar membeli selembar kertas dagangan, maka mindset kita bukanlah mindset investor. Sebab investor berpikirnya membeli saham berarti membeli bisnis.

Dan bisnis yang saya maksud di sini ya bisnis apapun. Entah dalam bentuk bisnis perkebunan, bisnis peternakan, bisnis restoran, bisnis kos-kosan, bisnis digital marketing, atau apapun. Yang penting menghasilkan cash flow dan bisa menghasilkan capital gain.

Cuman ya itu, beli dan membesarkan bisnis kan gak segampang beli emas 1 kg, lalu simpan 30 tahun. Dalam bisnis ada potensi rugi, ada potensi keuntungannya tertahan, ada potensi persaingan di pasar, selera pasar yang berubah, dan sebagainya.

Di sini saya tidak mendewakan investasi saham/bisnis. Seperti yang sudah saya bilang, beli emas lalu simpan 30 tahun jelas lebih gampang dibanding beli bisnis/saham lalu membesarkan bisnis tersebut.

Saya hanya menawarkan sudut pandang lain, bahwa investasi emas dalam jangka panjang bukanlah investasi. Hanya sekadar tabungan. Ini menjadi kegelisahan saya, sebab orang tua pun ngajarinnya investasi emas. Padahal jelas-jelas emas bukan investasi.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here