Di bulan Mei 2019 lalu saya pernah bikin polling di Instagram saya. Waktu itu saya bertanya.

“Mana yang lebih sulit, buka bisnis atau investasi di pasar modal?”

Mayoritas menjawab bahwa investasi di pasar modal lebih sulit. Persentasenya sekitar 60% berbanding 40%.

Saya cukup heran dengan jawaban tersebut. Tapi saya juga tidak kaget sih. Bisa disimpulkan bahwa masih banyak orang yang menganggap investasi saham itu berbahaya, penuh risiko, dan mengerikan.

Investasi Saham Itu Berbahaya?

Percaya atau tidak, investasi saham itu jauh lebih gampang daripada buka bisnis.

Lho kok bisa?

Saya sudah mengalami dua-duanya. Selepas kuliah, saya langsung membuka bisnis. Nama bisnisnya Kelingking ID (sebuah agensi digital marketing). Namun, selain membuka bisnis, saya juga investor di Bursa Efek Indonesia.

Kalau disuruh milih, kira-kira saya pilih mana?

Ya jelas jadi investor lah.

Kalau kamu sudah pernah buka bisnis, sudah mencoba jualan, kamu pasti tahu betul capeknya nyari klien, capeknya mendapatkan customer. Belum lagi pendapatan bisnis yang belum stabil. Apalagi di fase-fase awal, wah struggle-nya beneran nendang bro! Stress-stress dah itu.

Ngurusin tim, ngurusin operasional, promosi, semua nya aja dipikirkan dan dijalankan.

Sementara di sisi lain, jadi investor mah tinggal tidur. 😉

Tinggal beli saham perusahaan yang bagus dan tepat, terus tinggal tidur.

Bahkan orang tua saya pun menganggap bahwa buka bisnis lebih gampang dari investasi di pasar modal.

Ibaratnya nih ya, kalau saya minta modal sekian puluh juta untuk buka bisnis, pasti dikasih. Tapi coba deh saya balik, saya minta modal 50 juta untuk investasi saham. Wah pasti langsung dibilang judilah, gambling lah.

Temen saya ada yang buka coffee shop. Modalnya ratusan juta bro. Sukses?

Sukses dari mana, balik modal aja belom.

Di sekitar kosan saya, banyak orang yang buka usaha kuliner. Terutama berupa restoran dan cafe. Belom setahun, udah tutup aja tuh. Lha gimana enggak, sewa rukonya aja hampir seratus juta setahun. Mau jual makanannya berapa?

Singkatnya, banyak yang menganggap bahwa investasi saham itu berbahaya, penuh risiko.

Kalau pernah denger tentang klasifikasi investasi, para penasihat keuangan pasti bilang “saham itu high risk, high return“. Mereka bilang bahwa investasi saham itu cocok untuk orang yang profil risikonya tinggi. Kalau gak memenuhi kualifikasi, disuruhnya naro duit di deposito atau surat utang.

SlaveBerdasi pernah menulis tentang “dongeng investasi”. Salah satu dongeng investasi tadi ya itu, high risk high return.

Balik lagi ke pertanyaan awal tadi, emang sulit ya buat investasi saham?

Padahal buka rekening sekuritas sekarang sudah gampang banget. Bisa online. Beberapa sekuritas pun hanya mensyaratkan deposit awal sebesar 100.000 Rupiah.

Ya ada sih, yang minimal 1 juta, 3 juta, atau 10 juta. Tapi juga ada yang 100 ribu.

Sebelum Sok-Sokan Buka Bisnis, Belajar Bisnis Dulu dengan Jadi Investor

Maaf kalau sub judul tadi agak ngegas. Cuman saya mau sharing pengalaman pribadi nih. Menurut saya, fase awal buat belajar bisnis itu ya jadi investor. Hah gak kebalik?

Gimana? Gimana?

Iya betul. Kalau saya bisa memutar waktu, sebelum membuka bisnis, saya akan belajar jadi investor dulu. Kenapa?

Karena yang namanya jadi investor ya juga jadi pemilik bisnis, Bambang!

Analoginya gini deh. Saya beli saham BCA 1 lot (100 lembar). Dengan tercatat sebagai investor, artinya saya tercatat sebagai pemilik bank BCA. Walaupun cuma 100 lembar, tetap saja saya dianggap sebagai salah satu pemilik BCA. Lha wong RUPS saja diundang. Singkatnya, saya juga jadi pemilik BCA. Jadi bisnisnya BCA itu ya juga milik saya.

Terus?

Terus kalau saya sudah jadi pemilik bisnis, apalagi dong? Sebagai pemilik bisnis yang baik, tentu saya harus mengerti dong bisnis yang saya miliki. Maka saya pun belajar tentang bisnisnya BCA. Bahkan, sebelum memutuskan untuk beli saham BCA, saya harus riset dulu.

Saya perlu mengerti model bisnisnya BCA, saya perlu tahu seperti apa manajemen BCA, saya perlu tahu profit margin-nya BCA, saya perlu tahu laba bersihnya berapa, saya perlu tahu BCA dapet duit dari mana saja, saya perlu tahu seberapa efisien BCA itu. Nah, lama-lama, setelah jadi investor yang saya baik, saya pun akan mengerti tentang bisnis perbankan. Ya minimal secara umumlah.

Dan enaknya, sebagai pemilik saya bisa sambil belajar ke orang-orang jempolan yang ada di BCA. Saya tinggal belajar, mereka yang mengelola manajemen BCA. Saya tinggal belajar tapi bisa sambil tidur.

Sama halnya kalau kita jadi investor di perusahaan batubara (misal: di Bukit Asam, Adaro, dan sebagainya). Kita pasti akan belajar tentang manajemen perusahaan tersebut, kita akan baca laporan tahunannya, kita akan ikutin berita-berita dalam industri batubara. Lambat laun kita jadi ngerti bisnis batubara itu gimana, siklus bisnisnya seperti apa, dan lain sebagainya.

Plus, jika kita jadi investor yang “beneran”, kita dapat bonus skillset baru. Kita bakal bisa baca dan analisis laporan keuangan, ngerti soal cashflow, ngerti soal industri (perbankan, tambang, consumer, dsb) bakal bisa menilai manajemen yang bagus, dan banyak lagi.

Sebelum belajar bisnis, ada baiknya juga belajar membaca laporan keuangan.

Bermodalkan skillset tadi, pasti kita akan lebih percaya diri dan kompeten untuk berbisnis sendiri.

Tapi sayangnya, di masyarakat malah kebalik. Belum belajar jadi investor, tapi sudah belajar buka bisnis. Alhasil banyak yang bisnis pertamanya gagal, bubar jalan. Boro-boro sukses bikin bisnis, baca laporan keuangan aja gak ngerti. Padahal laporan keuangan itu bentuk komunikasi keuangan. Percuma tampilan luarnya cakep tapi kalo keuangannya beranatakan, ya bisnisnya rentan bubar.

Atau yang lebih parah ya itu, kejebak investasi bodong. Duitnya dibawa kabur sama para bajingan!

Investasi Saham Sebagai Sarana Belajar

Buat yang masih muda-muda atau yang masih pemula, saya malah merekomendasikan untuk “magang” dulu sebelum buka bisnis.

Magangnya di mana? Bisa magang di bisnis orang lain yang sudah sukses. Atau magang di pasar modal. Cara magangnya?

Jadilah investor, lalu belajar dari perusahaan yang terbaik. Saya menganggap kegiatan investasi di perusahaan bagus itu sebagai magang. Gak sekadar jadi investor di Unilever, BCA, Sampoerna, atau perusahaan bagus lain, kita juga “magang” dan belajar dari mereka. Belajar tentang manajemen mereka, belajar tentang keuangan mereka, belajar tentang industrinya, dan lain sebagainya

Jadi, kalau suatu hari anak saya mau minta modal untuk buka bisnis, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menyuruh dia magang dulu dengan cara jadi investor.

Tapi sebelum jadi investor, saya suruh dia belajar dari Warren Buffet atau Lo Kheng Hong dulu. Ha..ha..ha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here